18
Apr
13

NGUYANG

Kami menyebutnya demikian. Nguyang adalah sebuah pekerjaan, sebuah upaya yang berangkat dari ketiadaan makanan dalam sebuah keluarga. Pekerjaan ini dilakukan oleh para wanita pada saat musim panen jagung tiba. Pekerjaan ini sederhana. Saat sebuah keluarga panen jagung biasanya kabar ini sudah tersebar dari mulut ke mulut. Nah para penguyang ini akan datang berkelompok ke tempat panen berlangsung. Para penguyang ini akan berbaris di belakang para pemanen jagung yang biasanya dilakukan hanya oleh anggota keluarga dan para kerabat jika tanah yang dimiliki lumayan luas. Penguyang akan mengambil jagung-jangung yang terlewat, tidak dipetik pemanen sebab alpa atau karena ukuran jagung terlalu kecil. Biasanya mereka akan berebut dan sebuah kebajikan lokal yang terpelihara adalah para pemanen tidak akan lagi menengok ke belakang, ia akan terus melangkah memanen jagung di depannya. Ia tidak lagi peduli dengan jagung yang mungkin alpa tidak terpetik. Sepenuhnya jagung yang tertinggal itu milik penguyang. Para penguyang pun tidak akan melangkah lebih jauh dari satu meter dari pemetik jagung terahir. Seoalah hendak memberi kesempatan pada pemanen untuk mengambil kembali jagung yang tertinggal, Sesuatu yang tidak pernah terjadi. Selesai panen biasanya, bagi yang cukup baik akan membagikan hasil panen ini pada para penguyang sekedarnya. Biasanya satu bakul jagung akan menjadi tambahan buat penguyang. Biasanya para penguyang hafal pemanen jagung yang suka berbagi dan tidak.

Ada semacam kode etik dalam setiap panen jagung. Sebuah kebajikan masyarakat pedesaan yang miskin. Kebajikan untuk berbagi dan kebajikan untuk tidak mengambil apa-apa yang bukan haknya. Para penguyang biasanya adalah anggota masyarakat yang miskin, paling miskin diantara yang miskin. Mereka umumnya tidak memiliki tanah garapan, buruh tani. Tidak jarang pula para pemilik lahan tanah garapan pun akan menguyang saat yang lain panen. Para petani ini umumnya hanya memiliki tanah garapan yang tidak luas. Tidak ada satupun yang memiliki tanah seluas satu hektar. Tradisi ini mungkin berangkat dari semangat berbagi dalam kemiskinan.

Menguyang sebenarnya pekerjaan memalukan bagi sebagian orang yang mampu. Kami menyebutnya para priyayi, yang tidak pernah kekurangan makan bagi keluarganya. Bagi ibu-ibu penguyang, urusan perut anak-anaknya adalah nomer satu, mengalahkan rasa malu yang mungkin ada karena kadang-kadang para priyayi ini tidak suka ketika panen jagung, ada para penguyang di situ. Mereka biasanya hafal mana priyayi pelit dan yang suka berbagi.

Ibuku pun penguyang. Itu yang beliau ceritakan saat aku berangkat remaja. Menjadi penguyang saat kemiskinan dan ketiadaan makanan berlangsung berbulan-bulan sebelum panen. Cerita nestapa, perjuangan seorang ibu mengalahkan rasa malu saat harus dicemberuti pemilik lahan. Saat kedelapan anak-anaknya masih kecil. Saat gaji ayahku sebagai PNS hanya bisa menghidupi kami satu minggu. Saat kemiskinan begitu meraja di lereng utara gunung Slamet.

Akhir 90-an tradisi itu sudah tidak ada lagi. Mungkin tanda kemakmuran, juga karena tidak ada lagi masyarakat memanen jagung. Saat semua tanah ditanami sayuran. Dan beras menggantikan jagung sebagai makanan pokok. Saat impor beras mulai terdengar merisaukan.

29
Nov
11

Rumah Multatuli

“Dan pemenang dokumenter untuk kategori open adalah…. Rumah Multatuli….”. Begitulah, setelah sekian waktu menunggu hasil kompetisi dokumenter 1st SBM Golden Lens 2011, akhirnya film dokumenter produksi DAAI TV memenangkan festival itu. Acara penghargaan yang berlangsung di Erasmus Huis itu meriah. Aula terisi penuh dan dengan grogi aku yang didapuk menyutradarai film itu, maju ke depan untuk menerima penghargaan best documentary ini. Ini kali pertama aku naik podium setelah tahun 2010 aku tergeletak di rumah sakit saat film dokumenter Biarkan Kami Memilih masuk final di ajang Anugerah Adhiwarta Sampoerna 2010. Nima Sirait dan Ari Trismana yang juga memenangi ajang AAS mewakiliku menerima hadiah saat itu.

Kemenangan film Rumah Multatuli adalah penghargaan yang ketiga yang diperoleh tim produksi dokumenter DAAI TV: Refleksi. Sebuah penghargaan yang membanggakan sekaligus menggelisahkan.

Film dokumenter Rumah Multatuli berkisah tentang Ubaidilah Muchtar, seorang guru SMP yang ditugaskan di desa Sobang, sebuah daerah pelosok di kabupaten Lebak, Banten. Ubaidilah bukanlah guru biasa seperti guru lain yang juga ditugaskan di daerah terpelosok. Selain mengajar ia juga mendrikan Rumah Baca Multatuli, yang melakukan reading group buku Max Havelaar pada anak-anak kampung ini. Cerita ini dianggap menarik oleh dewan juri karena dalam film ini ada beberapa unsur cerita yang multidimensi seperti upaya menanamkan kecintaan pada sastra, upaya pendidikan karakter lewat buku Max Havelaar, penanaman sikap anti korupsi dan penindasan sampai pada persoalan pelestarian nilai-nilai sejarah yang ada pada cerita Max Havelaar.

Buat tim Refleksi; Aku, Nima Sirait dan Ari Trismana yang memproduksi film ini, kemenangan pada sebuah festival hanyalah penghargaan pada aspek kreativitas semata. Ia menjadi ajang untuk mengukur sejauh mana kerja kreativitas kami. Kami menganggap sebuah film dokumenter yang berhasil adalah apabila setelah film ini diputar dan ditayangkan di televisi, apakah mampu menggerakan penonton untuk minimal terispirasi oleh film tersebut atau tidak. Ini yang selalu menggelisahkan kami.

29
Nov
11

Derap Urbanisasi di Atas Dewi Sri

Sebait syair lagu dari Iwan Fals mengakhiri petikan gitar pengamen berambut gondrong yang selalu aku temui dalam bus ini. Lagunya itu-itu saja dan tampaknya ia adalah satu diantara jutaan fans Iwan Fals. Koin terakhir dari penumpang yang diterima lewat topi lusuhnya menandai bus ini akan segera berangkat. Penumpang lega setelah menunggu sekitar dua jam dari jadwal yang dijanjikan calo bus ini.

Bus ekonomi bertarif Rp. 35.000 untuk tujuan Jakarta, mulai melaju dari Yomani, sebuah pangkalan bus antar kota di selatan kota Slawi. Semua kursi terisi penuh. Sopir dan kondektur tampak puas. Enam puluh penumpang, dan artinya pendapatan kru bus ini cukup baik malam itu. Aku duduk di kursi tiga deret. Terjepit oleh dua penumpang yang tidak berhenti merokok. Sepanjang kota Tegal, bus ini masih menaikkan sekurangya tiga penumpang yang didudukkan di kursi kondektur dan kursi cadangan dekat sopir. Musik diputar keras-keras, lagu dangdut cirebonan bersaing dengan deru mesin bus. Penumpang tampak puas. Penumpang disamping kiriku ikut bernyanyi seturut lagu-lagu yang syairnya melulu soal kawin cerai dan perselingkuhan. Kakinya tidak henti menghentak lantai bus.

Kang kebeneran, aduh kaberan
Kula e masih angetan
Olih sewulan, luwih sedina
Kang kula nembe pisahan
Apa sih bener, sampean seneng
Kang naksir ning diri kula
Eh lamon bener, sing penting sayang
Wis pasti kula nerima

Penumpang disamping kananku memulai obrolan, bertanya hendak kemana dan bekerja dimana. Pertanyaan standar yang akan berujung pada pertanyaan pamungkas: ada lowongan?. Ia masih muda sekira dua puluhan tahun usianya, mengaku bekerja sebagai penjual nasi goreng dikawasan Kebagusan, Jakarta Selatan. Liburan seminggu di kampungnya, Tembongwah, harus berakhir mengingat ia harus kembali berdagang buat membayar uang sewa lahan buat gerobaknya. “250 ribu sebulan” ujarnya. Sudah setahun ia berdagang, mengikuti tradisi masyarakat di kampungnya yang mayoritas merantau ke Jakarta. Berjualan mulai dari nasi goreng, martabak dan gorengan. Ia mengaku beruntung punya pangkalan yang dikelola secara aplusan dengan kakaknya.

“Cukup lumayan lakunya, tapi aku masih tetep ingin jadi pegawai”. Ia mengaku tidak mampu mengelola pendapatanya. Karena berdagang, kapan saja ia dapat uang dan karena itu membuatnya boros. Dengan menjadi pegawai ia berandai-andai bisa berhemat karena uang hanya bisa diperoleh sebulan sekali lewat gaji. Sebuah pemikiran yang ganjil. Rupanya para perencana keuangan perlu menyasar orang-orang seperti ini yang tidak tahu bagaimana mengelola uang. “Uangnya habis buat jalan-jalan”, akunya. Ia minta dicarikan pekerjaan apa saja. Mengaku hanya lulus SMA, menjadi satpam dirasanya ideal.

Jam terus bergerak. Penumpang disebelah kiriku lelap. Si penjual nasi goreng sibuk bercakap dengan pacarnya lewat loudspeaker handphone karena suara musik mengalahkan semuanya. Kali ini lagu-lagunya Rhoma Irama. Sesekali ia membuka situs facebook lewat handphone buatan Cina. Malam melarut, bus memasuki warung makan di daerah Subang.

Ada puluhan bus Dewi Sri yang terparkir di warung makan ini. ribuan orang setiap harinya memanfaatkan bus ini untuk pergi dan pulang dari Jakarta menuju kota-kota yang dilayaninya: Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Purwokerto. Mayoritas dari mereka bekerja di sektor informal.

Pergerakan manusia ini telah menggerakan semua sektor di sepanjang pantura. Ribuan keluarga hidup dari pergerakan urbanisasi ini. Dalam bus ini saja mulai dari awak bus, pengamen, pengasong dan peminta sumbangan menggantungkan hidup. Tak terkecuali warung makan ini. Konon kabarnya dari uang toilet saja, warung ini bisa meraup tiga juta rupiah dalam sehari. Jumlah yang masuk akal mengingat menyemutnya manusia pada saat jam bus istirahat. Apalagi ada dua kelas toilet di warung ini: ekonomi bertarif seribu dan VIP bertarif dua ribu rupiah. Harga makanan diwarung ini mahal, tidak banyak penumpang yang makan di sini. Banyak trik yang dilakukan pengelola buat menarik pembeli. Misalnya ada deretan warung makan disekitar warung utama yang menjual makanan ala kadarnya. Biasanya para penumpang makan disini meskipun harganya tetap tinggi. Tipuan psikologi konsumen yang berhasil. Sebungkus pop mie misalnya dihargai enam ribu rupiah. Tampaknya ini makanan termurah disini. Untuk mengesankan murah lihatlah tulisan yang terpampang di tembok warung ini. Jumawa sekaligus menggelikan: Atas amanah ibu pimpinan warung (aku lupa namanya) ditetapkan harga popmie adalah 6000 rupiah. Bila ada pelanggan yang membeli diatas harga itu uang akan dikembalikan dan popmie diberikan secara gratis!.

Saat kampanye pemilihan walikota Tegal, warung ini penuh dengan poster sang pemilik bus Dewi Sri yang hendak maju sebagai calon berkampanye. Tampaknya berhasil. Sang pemilik Bus sekarang menjadi wali kota Tegal. Pengelola bus ini bisa membangun ikatan emosional dengan pelanggannya. Bisa dipastikan mereka tidak akan beralih armada dan mungkin ini yang jadi salah satu kunci kemenangan sang walikota selain tentunya pendapatan besar dari bisnis ini yang memungkinkan ia ikut pemilihan.

Dari googling dibeberapa situs, jumlah penduduk Indonesia sekitar 259 juta tahun ini. Pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,5 persen, artinya ada sekitar 4,5 juta bayi yang lahir setiap tahunnya. Dengan penyebaran penduduk dan pembangunan yang terpusat di kota, pada tahun 2025 sebanyak 195 juta jiwa atau setara 65 persen penduduk akan tinggal di kota. Secara kasat mata jumlah arus manusia yang aku lihat tiap kali pulang kampung terus meningkat. Jumlah ini sempat menurun saat terjadi krisis ekonomi sekitar tahun 1997-1998. Bus-bus sepi penumpang. Konon dari Jawa Tengah saja sekitar empat juta warganya merantau ke Jakarta.

Dengarlah pengakuan gadis belia yang duduk disampingku setelah bertukar bus dengan penumpang sebelumnya yang hendak turun di pulogadung. Ia mengaku lulusan SMP dan bekerja di sebuah warung tegal di daerah Depok. Bersama serombongan remaja seusianya ia harus meninggalkan kampung halamannya karena tidak ada apapun yang bisa dikerjakan disana meskipun ia mengaku lebih senang tinggal di kampungnya. Bekerja di warteg memungkinkannya mendapat penghasilan sebesar 400 ribu rupiah sebulan.

Kota semakin sesak, hidup semakin tidak berkualitas.

Memasuki penggal terakhir kota Subang, deretan rumah karaoke sudah sepi. Hanya beberapa yang masih buka. Beberapa gadis belia dengan dandanan seksi duduk di sofa di depan rumah karoeke itu menungu pelanggan. Seorang gadis tampak cuma bercelana pendek dan kaus tanktop di pagi buta yang gerimis, duduk menggelosor di sofa sambil bermain handphone. Sebuah truk dan sedan terparkir di satu rumah karaoke yang pintunya bergambar sebuah botol bir besar yang entah apa mereknya. Bisnis masih berlangsung di pagi buta itu.

Suara Ebiet G. Ade mengantar bus ini memasuki tol Cikampek. Jam menunjuk angka tiga pagi. Belasan lagu Ebiet telah berlalu. Sepasang suami istri dan anaknya yang masih bayi meminta turun di daerah Cilandak. Dua tas besar membuat sang suami kerepotan.

Apa boleh buat, Jakarta tetaplah sebuah magnet. Termasuk bagi diriku.

06
Oct
09

Cerita Dari Atas Kursi 12A

Untuk urusan arus balik lebaran kali ini aku mempercayakan sepenuhnya pada kereta Cirebon Express yang sekarang sudah melayani rute ke Brebes dan Tegal. Seminggu sebelum keberangkatan tiket sudah kupesan. Sebuah tiket kelas eksekutif dengan nomor kursi 12A gerbong 2, keberangkatan dari Brebes jam 13.30.

Pada hari keberangkatan tepat dipenghujung bulan september, cerita bemula dari kereta yang terlambat selama satu jam. Sebuah cerita lama yang membuat sepotong syair lagu Iwan Fals tetap relevan. Tidak ada permintaan maaf dari sang petugas yang mengumumkan perilah keterlambatan itu. penumpangpun tampak acuh. Sebuah apatisme massal telah muncul terhadap layanan umum di indonesia. Masyarakat sudah apatis terhadap kualitas layanan umum. Apatisme massal muncul karena masyarakat sudah jenuh dan tidak tahu harus melakukan apa untuk sekedar mencari tahu apalagi untuk mencoba komplain dan menuntut kualitas layanan umum.

Sekitar jam 14.30 kereta datang. Penumpang segera menghambur menghampiri nomor gerbong yang sesuai dengan yang tertulis di karcis. Kebingungan muncul di wajah para penumpang karena nomor gerbong berbeda. Ada nomor lama dan nomor baru yang berbeda angkanya. Pada satu gerbong misalnya tertulis nomor 1 yang kelihatanya cetakan lama dan nomor 2 yang sepertinya tempelan baru. Para penumpang saling bertanya dan saling meyakinkan. Sangat menggelikan.

Memasuki gerbong aku segera mendapatkan kursi 12A yang tidak jauh dari pintu masuk. Ini dia kursi kelas eksekutif itu! sebuah kursi yang menempel jendela. Ah beruntung, duduk di kursi dekat jendela adalah kesukaanku bila pergi naik bis, kereta atau pesawat. Lebih beruntung lagi kalau siapa tahu teman seperjalananku gadis cantik. Lima menit berikutnya tiga orang masuk, seorang nenek dengan cucunya yang masih bayi dan laki-laki dan perempuan muda yang pastinya orang tua sang bayi. Mereka bertiga duduk disebelahku. Pupus sudah harapanku. Untuk urusan ini memang aku tidak pernah beruntungJ sambil menunggu keberangkatan, keluarga itu membuka bunkusan makan siang. Aromanya fuih… aku yang tidak terbiasa makan di kendaraan langsung mual. Mereka tampak lahap. Dan alamak selesai makan ayah si bayi cuci tangan di depan kursiku yang ia pakai karena masih kosong. Basahlah lantai gerbong. Wibawa kursi kelas eksekutif mulai luntur!

Kereta berjalan. Stasiun demi stasiun kecil di Brebes lewat. Aku mengamati kursi disebelahku, penumpang sebelahku tampak kesal karena stepfoot berikut tempat menaruh koran dikursinya sudah tidak ada. Koyak moyak entah kenapa. Tidak terbayang kaki ukuran sebesar apa yang sanggup mematahkan stepfoot sekuat itu. Aku mencoba menginjak keras-keras stepfoot dikursiku untuk mencoba seberapa kuat konstruksinya. Lebih aneh lagi kenapa PJKA tidak mau membetulkan hal sederhana yang berpengaruh pada mutu layanan kursi kelas eksekutif itu.

Kereta masih sepi saat memasuki cirebon. Kulihat si nenek tertidur pulas bersama bayinya. Dan alamak… ia mengangkat kakinya dan menaruhnya di sandaran tangan kursi didepannya. Sebuah pemandangan yang sangat tidak sedap. Kalau ia sedang main bola pastilah sudah kena sangsi wasit karena mengangkat kaki terlalu tinggiJ. sementara si lelaki, sang menantu terlentang tidur dikursi didepannya yang belum terisi penumpang. Sang perempuan, ibu si bayi tertidur disampingku dengan melipat kakinya keatas kursi. Seolah disampingnya adalah hanya seonggok patung lelaki yang sedang termangu. Demikianlah… ruang publik secara psikologis sanggup menelan identitas personal seseorang. Beberapa orang biasanya secara tidak sadar kehilangan identitas pribadinya. Yang muncul adalah perilaku massal. Keluarga itu kehilangan identitas personalnya ditelan gerbong kereta.

Di sebuah stasiun di wilayah Cirebon kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Serombongan orang naik tampaknya sebuah keluarga dengan dua anak kecil dan beberapa kardus serta koper yang merepotkan. Ia mondar-mandir mencari kursi bernomor 14! Padahal di gerbong itu nomor kursi hanya sampai 13! Ia bertanya kesana kemari sambil selalu memastikan tulisan yang tercetak di kacisnya. Penumpang lain ikut kebingungan. Akhirnya mereka bergerak kebelakang setelah bolak-balik tidak juga menemukan kursi yang dimaksud. Sejak itu aku tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Seorang lelaki membentak istrinya yang sedari tadi kebingungan mencari pintu toilet yang terisi air. Rupanya tidak semua toliet terisi air. Bentakan yang membangunkan penumpang lain yang sedang tidur. Hmm… kalau ditempat umum saja sang suami masih sanggup membentak istrinya bagaimana kalau ditempat tidur ya?

Toilet adalah hal paling tidak penting di negeri ini. Aku yang mengidap stres lingkungan sampai sekarang tidak pernah berani berurusan dengan toilet umum atau toilet yang belum kukenal kecuali sangat terpaksa. Panggilan alam sepanjang perjalanan itu terpaksa aku abaikanL

Memasuki stasiun besar Cirebon, penumpang bertambah ramai, kursi terisi semua. Kereta berhenti sekitar 15 menit. Lewat pengeras suara, petugas meminta maaf atas keterlambatan kereta. Sebuah layanan yang tidak standar antar stasiun. Dari balik jendela aku melihat para pengantar tampak tidak mau melepaskan pandangannya dengan orang-orang tercintanya yang sudah berada diatas kereta. Bahkan saat kereta itu mulai berjalan, para pengantar ikut berjalan seolah tidak mau melepaskan pandangannya. Cinta memang indah dan mempesona.

Selepas Cirebon kereta, melaju dengan dominasi pemandangan sawah-sawah kering kerontang terpanggang matahari kemarau. Memasuki sebuah perrkampungan sekelompok anak dengan iseng melempar kereta dengan batu. Sebuah cerita lama yang tidak pernah selesai. Seorang pramugari bolak-balik menawarkan pesanan minuman dan makanan. Sampai di kursi no. 13 tepat didepanku ia menawari dua penumpang apakah akan memesan minuman atau tidak. Seorang penumpang menjawab, “ Saya ingin memesan teh tapi mau ditaruh dimana, di kursi ini tidak ada tempat menaruh gelas”. Sesaat sang pramugari melirik ke arah jendela dan benar saja di kursi itu tidak ada tempat menaruh gelas sebagaimana kursi lainya. Sang pramugari cantik yang tampak kelelahan hanya tersenyum malu sambil memberi saran sekenanya “ Gelasnya bisa bapak pegang kok”. Penumpang menjawab sambil bercanda. “Sejauh itu saya harus memegangi gelas panas?”

Percakapan terhenti begitu saja tanpa ada pesanan minuman seperti yang diharapkan pramugari itu. Setelah itu dua penumpang di depanku kembali asik mengobrol soal politik. Ah apakah mereka tidak jemu ya dengan politik di Indonesia yang begitu membosankan dan penuh akrobat konyol.

Kereta terus melaju mengikuti lompatan waktu. Terang kemudian berangsur gelap. Lampu kabin menyala, aku mencoba menghidupkan lampu diatas tempat dudukku yang dua-duanya ternyata tidak menyala!

Ah bangsa ini baru sekadar bisa mengartikan kata kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif hanya menjadi deretan tarif yang berbeda, tapi belum bisa secara maksimal menerjemahkan ketiga kata itu dalam layanan sebagaimana mestinya. Rasanya kalau hanya mengandalkan perubahan mental secara alami perlu waktu seratus tahun kalau tanpa langkah-langkah revolusioner…

06
Oct
09

Cerita Dari Atas Roda

Depok, jam 5 pagi.

Untuk sebuah tradisi, tepat pada hari ke 28 Ramadhan aku memacu sepeda motorku menuju kampung halaman. Sudah dua kali aku pulang kampung dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah perjuangan yang tidak mudah setelah setiap tahun selalu mendapati kesulitan mendapatkan angkutan umum bus maupun kereta. Setiap kali mendatangi stasiun maupun terminal bus aku selalu merasa terhina dengan situasi yang ada. Bagaimana mungkin untuk mendapatkan sebuah tempat dalam bus maupun kereta harus berebut saling sikut, kadang malah ada yang memecahkan kaca untuk bisa masuk. Begitu selalu berulang setiap tahun. Belum lagi perlakuan para awak bus, calo maupun kenek yang menggunakan kesemptan itu untuk memeras penumpang. Seolah tidak ada lagi jejak ibadah puasa yang katanya mengajarkan kebaikan, kesabaran, toleransi. Manusia terlihat begitu buas.

Karawang, jam 10 pagi yang menyengat.

Kemacetan yang mengular membuat perjalanan terhambat beberapa jam. Sejauh mata memandang hanya terlihat puluhan ribu kepala tertutup helm. Udara sangat panas. Niatku untuk berpuasa pupus sudah, tidak sanggup menahan haus. Di sebuah rumah dengan warung yang agak lapang aku berhenti beristirahat, memesan minum, beberapa detik  kemudian batallah puasaku. Tepat di depan rumah tersebut ada sebuah kios bensin. Beberapa orang membeli karena memang sepanjang jalur itu hanya ada dua pom bensin yang jaraknya berjauhan dan karena kemacetan yang sangat parah membuat konsumsi bensin sangat boros. Beberapa motor mulai kehabisan bahan bakar. Beberapa pembeli bensin tampak sangat kecewa karena harga bensin melonjak dua kali lipat menjadi sepuluh ribu untuk satu liternya. Apa boleh buat. Ada yang memaklumi ada juga yang menggerutu. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa yang mengajarkan pelayanan. Bagi para pedagang di sepanjang karawang dan sebagian dari kita, hidup adalah uang. Kita kadang  mengeruk keuntungan berlipat dengan memanfaatkan kesempatan yang tersedia tanpa perlu berhitung dengan etika. Lagi-lagi aku menemukan sisi buas manusia.

Subang, jam 12 siang.

Setelah lepas dari kemacetan di Karawang kini aku memasuki daerah Subang dengan tersendat di beberapa ruas. Pada pom bensin pertama yang kutemui aku langsung berhenti untuk mengisi bensin. Aku memaksakan diri tidak mengisi di kios bensin itu karena tidak sudi menjadi korban kebuasan para pedagang itu. Rupanya soal mengisi bensin juga bukan perkara mudah, aku memerlukan satu jam untuk urusan itu. Orang-orang saling memaki karena beberapa tidak sudi mengantri dan menyerobot. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa disini, tidak ada toleransi seperti yang diajarkan puasa. Semuanya mau menang sendiri tanpa peduli dengan yang lain, saling berebut tempat yang bukan haknya dengan jalan pintas. Persisi perilaku korupsi.  Manusia terlihat begitu egois.

Subang, penggal terakhir jam 2 siang yang menyengat.

Dibawah sengatan matahari pantura yang buas, sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang kinclong dan sebuah sepeda motor bebek dengan tiga penumpang: seorang lelaki, seorang wanita dan bocah balita berusia sekitar dua tahun. Mobil dan sepeda itu tepat berada disisiku yang merayap sangat pelan karena macet menjelang perempatan di sebuah pasar. Tepat saat mobil  dan sepeda motor berpenumpang tiga orang itu beriringan, sopir menengok ke kiri dan melihat sepeda motor itu. Ia kemudian mencolek penumpang perempuan disisinya sambil menunjuk sepeda motor itu. Perempuan itu menoleh sebentar kemudian kembali menekuni bacaannya. Tidak bereaksi. Aku melhat sang sopir yang mungkin suaminya berbicara entah apa, mungkin sedang membicarakan tiga penumpang sepeda motor itu. Mungkin sedang menyalahkan keluaraga itu karena membawa seorang bayi mudik dengan sepeda motor. Ada seribu alasan yang membuat keluarga itu mudik dengan mengunakan sepeda motor seraya membawa seorang balita. Kondisi yang mengancam keselamatan sang bayi. Tidak perlu memperbincangkan kenapa keluarga itu tetap nekat menerabas imbauan pemerintah untuk tidak membawa anak kecil di sepeda motor. Aku membayangkan sebuah solidaritas spontan yang muncul dari penumpang mobil  itu. Solidaritas untuk menawarkan sebuah ruang dalam mobil itu untuk ibu dan bayi yang terlihat kepayahan tersengat matahari, debu dan asap panas ribuan kendaraan. Mobil itu hanya berpenumpang dua orang, masih ada ruang kosong yang sejuk dibelakang.

Ruang (fisik maupun non fisik) adalah unsur penting solidaritas. Tidak ada solidaritas tanpa menyertakan ruang. Pada musim mudik kali ini aku masih melihat sepeda motor yang juga mengangkut anak kecil dan bayi. Jumlahnya sudah jauh berkurang. Perkiraanku hanya satu diantara seratusan motor. Pada saat yang sama juga aku melihat masih banyak ruang-ruang kosong yang sejuk dalam mobil-mobil mewah. Kalau saja puasa yang mengajarkan solidaritas benar-benar terinternalisasi pada setiap individu yang menjalaninya, tidak ada cerita seperti di atas. Akan muncul solidaritas-solidaritas spontan. Solidaritas untuk menawarkan ruang dan membaginya untuk anak-anak kecil yang kepayahan menyabung nyawa. Puasa yang datang sepanjang hidup kita belum juga mampu mengajarkan solidaritas yang spontan. Sebuah solidaritas yang sudah terinternalisasi, memasuki alam bawah sadar kita dan menjadikan solidaritas begitu tulus, asli dan indah.  Sayangnya kita masih memahami solidaritas sebatas kotak amal di masjid.

Indramayu, jam 15.30

Memasuki penggal pertama kota Indramayu aku berhenti di sebuah masjid untuk beristirahat sekaligus sholat ashar dan dzuhur yang digabung. Ada seratusan orang yang tengah beristirahat dan sholat. Aku duduk di sudut masjid sesuai sholat. Melamun dan menghitung kembali  serta membandingkan berapa yang aku berikan pada yang membutuhkan dan berapa yang aku konsumsi sendiri selama bulan puasa.  Aku mengkonsumsi lebih banyak ketimbang yang aku berikan pada yang membutuhkan. Bulan puasa selalu tampak seperti sebuah bulan pesta pora dengan bungkus ibadah. Kita mengkonsumsi apapun lebih banyak dari biasanya. Perilaku ini membuat semua komoditas mengalami kenaikan harga yang ujung-ujungnya yang miskin juga yang sengsara. Kita memang memberi tapi terlalu sedikit tidak sebanding dengan akibat dari pola konsumsi yang membuat si miskin semakin terjepit. Puasa katanya mengajarkan agar kita ikut merasakan penderitaan orang miskin yang selalu merasa kekurangan. Seharusnya dibulan ini kita mengkonsumsi lebih sedikit dan memberikan lebih banyak agar kita benar-benar merasakan bagaimana hidup dalam keterbatasan. Sayangnya budaya telah membalik keadan itu. Kita hanya memberi sebatas beramal tanpa benar-benar berkehendak merasakan kekurangan dan penderitaan yang sebenarnya seraya memanjakan saudara-saudara kita yang miskin. Kali ini aku tidak melihat jejak puasa dalam diriku. Aku malu.

Kedawung, jam 7 pagi yang sangat dingin di kaki gunung Slamet.

Ini adalah shalat idul fitri yang sekian belas kali dalam hidupku sejak aku mulai ikut shalat. Seorang khatib menjelaskan tentang pelajaran puasa bagi manusia. Ia berkata alangkah beruntungnya manusia yang dibulan puasa melakukan ibadah, berbuat kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah, melakukan amal sholeh dengan lebih peduli pada anak-anak yatim dan orang miskin. Sebaliknya, katanya alangkah hinanya manusia yang pada bulan ini abai pada anak yatim dan orang miskin.

Kalimat “alangkah hinanya” membuat aku malu untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang memperoleh kemenangan setelah sebulan puasa dengan sehari bolong gara-gara mudik atau tidak. Aku hanya merasa seperti seorang yang pulang pagi dan kelelahan setelah berpesta pora semalam penuh.

Sesaat kemudian puluhan SMS ucapan selamat idul fitri masuk dalam ponselku. Aku semakin malu.

23
Jul
09

Applaus untuk Kangen Band

imagesAku secara tidak sengaja melihat Kangen Band sedang manggung disebuah stasiun tv. Kulihat mereka sedang memainkan lagu yang berjudul (mungkin) Yolanda. Band kacrut ini (menurut istilah sebuah majalah remaja) seperti membius penonton yang bisa jadi akan mereka istilahkan juga sebagai golongan kacrut. Band ini menuai banyak kontroversi. Banyak yang menghujatnya tetapi banyak juga yang memujinya. Hujatan karena menurut para penghujat band ini telah merusak dan mencemari apa yang namanya musik. Lirik-lirik lagu, aransemen, tampang, sejarah dan penampilan band ini mereka anggap sama sekali tidak mewakili arus utama musik dan dunia keartisan Indonesia. Mereka telah berbuat dosa terhadap musik. Bahkan pernah beredar fatwa mati buat anggota band ini disebuah milis. Bagi yang memuji, inilah hasil sebuah etos kerja keras. Para personel band ini datang dari lingkungan marjinal. Ada yang berayah tukang becak, ada yang berprofesi penjual sandal keliling, penjual cendol. Nasib mempertemukan mereka dengan produser dan mulailah mereka menjadi selebritis. Mereka sukses.

Aku tidak menyukai musik-musik Kangen Band tetapi aku tidak akan ikut menghujat mereka hanya karena tidak menyukai musiknya. Aku lebih suka mengapresiasi apa yang telah mereka raih. Anak-anak muda ini telah menemukan jalan yang secara tidak sadar sedang mereka cari lewat perjuangan hidup mereka saat mereka belum merilis album. Mereka muncul dari kalangan tidak berpunya. Musik pastinya bukan cita-cita mereka, apalagi menjadi selebritis. Anak-anak muda ini hanya sekedar bertahan hidup sambil sesekali berkumpul untuk nge-band. Nasib kemudian berpihak kepadanya, sesuatu yang lazim bagi siapapun yang telah bekerja keras. Pasar kemudian merespon album mereka dengan baik. Tampang, lirik-lirik lagu, latar belakang nasib mereka begitu wewakili keseharian anak muda di Indonesia. Mereka membawakan lagu-lagu yang terkesan lugu dan kampungan tetapi justru syair-syair lagu itu yang dekat dengan keseharian jutaan anak muda disini. Mereka menjadi tidak berjarak dengan kehidupan riil masyarakat. Aku juga suka mereka merekrut penyanyi wanita yang sama sekali tidak bertampang artis. Sederhanan dan memakai kerudung. Mereka tetap orang kampung yang mungkin tidak betah dengan orang kota. Bisa jadi mereka memang sengaja memberikan kesempatan orang-orang yang terpingirkan arus utama. Mereka tidak lantas latah dengan ketenaranya, masuk arus utama dunia selebritis di Indonesia. Lebih dari itu kesuksesan mereka mengispirasi anak-anak muda yang jauh dari fasilitas, tampang dan modal kapital. Dengan kerja keras, nasib akan memihak.

Ketidaksukaan individu-individu pada group band ini juga sebenarnya adalah fenomena umum segelintir masyarakat yang merasa paling tahu akan segala hal. Orang-orang yang tidak suka merasa mereka adalah penentu standar kualitas musik dan tampang artis. Sama seperti pengambil kebijakan di pemerintahan yang selalu mempertahankan pembangunan ekonomi berdasarkan kapital besar, pasar uang, bank dan saham. Mereka tidak mau memahami meskipun tahu bahwa ketahanan ekonomi bangsa ini terletak di pedesaan dan usaha kecil menengah. Pergerakan usaha pedesaan ini yang paling kebal krisis tetapi selalu dianak tirikan, mendapat kucuran sisa-sisa kredit perbankan. Membiarkan mereka bertarung sendiran, tidak memberikan fasilitas apalagi proteksi. Mereka mengakui eksistensi usaha kecil ini seraya terus menerus mengingkarinya. Para pengambil keputusan ini cuma segelintir manusia picik yang takut kehilangan muka, uang, gengsi ditengah arus modernitas bangsa ini yang konyol.

Kembali ke Kangen Band…. Para pengkritik ini sebenarnya adalah sekumpulan orang-orang picik yang lahir lewat fasilitas kapital. Mereka merasa memiliki otoritas atas sekumpulan anak kampung yang beruntung itu. Mereka merasa memiliki otoritas untuk menentukan warna pasar musik, siapa yang boleh masuk dan berkarya. Mereka sekumpulan orang yang tidak bisa memaknai arti kerja keras. Mereka orang-orang yang lebih menyukai cara-cara pintas menjadi terkenal, lebih percaya pada pencarian bakat lewat kontes mimpi. Mereka orang yang mengangap dirinya raja yang merasa singgasana mereka tercemar oleh kedatangan anak-anak kampung itu.

Kemarin saat jalan-jalan di Detos, aku lihat vokalis band ini nampang dengan vokalis-vokalis band terkenal lainnya sedang menjajakan sebuah produk. Ia sudah jadi bintang iklan, berderet dengan selebritis “beneran” lainnya. Ah aku suka melihat fotonya… gambaran cerita moral nenek moyang: miskin, kerja keras, bermimpi lalu Tuhan akan mewujudkan mimpimu pada saat yang tepat.

rumahkancil, juli 2009

25
Mar
09

tuhhhhh…bule aja doyan

Ingimages2et kan iklan sebuah produk kopi yang diperankan oleh Luna Maya yang sedang melayani bule itu? iklan ini dugaanku (sotoyku kumat) mencoba mengusik rasa rendah diri sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat kita selalu menjadikan dunia barat sebagai tolak ukur sampai-sampai soal rasapun dalam iklan itu harus mengacu lidah si bule tadi. Menurutku menjadikan dunia barat sebagai acuan tentu sah-sah saja, apalagi dalam hal kemajuan teknologi. Hanya saja ukuran-ukuran tersebut jangan lantas menjadikan kita rendah diri: kalau bule pasti oke. Dan aku menduga kopi itu laris manis.

Mentalitas inlander kita setelah lebih dari 60 tahun merdeka rupanya tidak juga beranjak menjauh. Dari rakyat kecil sampai pemimpin semua bermental inlander. Mudah didikte oleh bangsa asing, pejabat kita bangga mendapat kepercayaan donor asing, lebih suka produk impor. Pendeknya merendahkan diri sendiri dan kemampuan sendiri.

Ayo…lawan mentalitas inlander bangsa ini, jangan malu menjadi diri sendiri, jangan mau seperti Luna Maya… jadilah Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan Syahrir.