Depok, jam 5 pagi.
Untuk sebuah tradisi, tepat pada hari ke 28 Ramadhan aku memacu sepeda motorku menuju kampung halaman. Sudah dua kali aku pulang kampung dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah perjuangan yang tidak mudah setelah setiap tahun selalu mendapati kesulitan mendapatkan angkutan umum bus maupun kereta. Setiap kali mendatangi stasiun maupun terminal bus aku selalu merasa terhina dengan situasi yang ada. Bagaimana mungkin untuk mendapatkan sebuah tempat dalam bus maupun kereta harus berebut saling sikut, kadang malah ada yang memecahkan kaca untuk bisa masuk. Begitu selalu berulang setiap tahun. Belum lagi perlakuan para awak bus, calo maupun kenek yang menggunakan kesemptan itu untuk memeras penumpang. Seolah tidak ada lagi jejak ibadah puasa yang katanya mengajarkan kebaikan, kesabaran, toleransi. Manusia terlihat begitu buas.
Karawang, jam 10 pagi yang menyengat.
Kemacetan yang mengular membuat perjalanan terhambat beberapa jam. Sejauh mata memandang hanya terlihat puluhan ribu kepala tertutup helm. Udara sangat panas. Niatku untuk berpuasa pupus sudah, tidak sanggup menahan haus. Di sebuah rumah dengan warung yang agak lapang aku berhenti beristirahat, memesan minum, beberapa detik kemudian batallah puasaku. Tepat di depan rumah tersebut ada sebuah kios bensin. Beberapa orang membeli karena memang sepanjang jalur itu hanya ada dua pom bensin yang jaraknya berjauhan dan karena kemacetan yang sangat parah membuat konsumsi bensin sangat boros. Beberapa motor mulai kehabisan bahan bakar. Beberapa pembeli bensin tampak sangat kecewa karena harga bensin melonjak dua kali lipat menjadi sepuluh ribu untuk satu liternya. Apa boleh buat. Ada yang memaklumi ada juga yang menggerutu. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa yang mengajarkan pelayanan. Bagi para pedagang di sepanjang karawang dan sebagian dari kita, hidup adalah uang. Kita kadang mengeruk keuntungan berlipat dengan memanfaatkan kesempatan yang tersedia tanpa perlu berhitung dengan etika. Lagi-lagi aku menemukan sisi buas manusia.
Subang, jam 12 siang.
Setelah lepas dari kemacetan di Karawang kini aku memasuki daerah Subang dengan tersendat di beberapa ruas. Pada pom bensin pertama yang kutemui aku langsung berhenti untuk mengisi bensin. Aku memaksakan diri tidak mengisi di kios bensin itu karena tidak sudi menjadi korban kebuasan para pedagang itu. Rupanya soal mengisi bensin juga bukan perkara mudah, aku memerlukan satu jam untuk urusan itu. Orang-orang saling memaki karena beberapa tidak sudi mengantri dan menyerobot. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa disini, tidak ada toleransi seperti yang diajarkan puasa. Semuanya mau menang sendiri tanpa peduli dengan yang lain, saling berebut tempat yang bukan haknya dengan jalan pintas. Persisi perilaku korupsi. Manusia terlihat begitu egois.
Subang, penggal terakhir jam 2 siang yang menyengat.
Dibawah sengatan matahari pantura yang buas, sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang kinclong dan sebuah sepeda motor bebek dengan tiga penumpang: seorang lelaki, seorang wanita dan bocah balita berusia sekitar dua tahun. Mobil dan sepeda itu tepat berada disisiku yang merayap sangat pelan karena macet menjelang perempatan di sebuah pasar. Tepat saat mobil dan sepeda motor berpenumpang tiga orang itu beriringan, sopir menengok ke kiri dan melihat sepeda motor itu. Ia kemudian mencolek penumpang perempuan disisinya sambil menunjuk sepeda motor itu. Perempuan itu menoleh sebentar kemudian kembali menekuni bacaannya. Tidak bereaksi. Aku melhat sang sopir yang mungkin suaminya berbicara entah apa, mungkin sedang membicarakan tiga penumpang sepeda motor itu. Mungkin sedang menyalahkan keluaraga itu karena membawa seorang bayi mudik dengan sepeda motor. Ada seribu alasan yang membuat keluarga itu mudik dengan mengunakan sepeda motor seraya membawa seorang balita. Kondisi yang mengancam keselamatan sang bayi. Tidak perlu memperbincangkan kenapa keluarga itu tetap nekat menerabas imbauan pemerintah untuk tidak membawa anak kecil di sepeda motor. Aku membayangkan sebuah solidaritas spontan yang muncul dari penumpang mobil itu. Solidaritas untuk menawarkan sebuah ruang dalam mobil itu untuk ibu dan bayi yang terlihat kepayahan tersengat matahari, debu dan asap panas ribuan kendaraan. Mobil itu hanya berpenumpang dua orang, masih ada ruang kosong yang sejuk dibelakang.
Ruang (fisik maupun non fisik) adalah unsur penting solidaritas. Tidak ada solidaritas tanpa menyertakan ruang. Pada musim mudik kali ini aku masih melihat sepeda motor yang juga mengangkut anak kecil dan bayi. Jumlahnya sudah jauh berkurang. Perkiraanku hanya satu diantara seratusan motor. Pada saat yang sama juga aku melihat masih banyak ruang-ruang kosong yang sejuk dalam mobil-mobil mewah. Kalau saja puasa yang mengajarkan solidaritas benar-benar terinternalisasi pada setiap individu yang menjalaninya, tidak ada cerita seperti di atas. Akan muncul solidaritas-solidaritas spontan. Solidaritas untuk menawarkan ruang dan membaginya untuk anak-anak kecil yang kepayahan menyabung nyawa. Puasa yang datang sepanjang hidup kita belum juga mampu mengajarkan solidaritas yang spontan. Sebuah solidaritas yang sudah terinternalisasi, memasuki alam bawah sadar kita dan menjadikan solidaritas begitu tulus, asli dan indah. Sayangnya kita masih memahami solidaritas sebatas kotak amal di masjid.
Indramayu, jam 15.30
Memasuki penggal pertama kota Indramayu aku berhenti di sebuah masjid untuk beristirahat sekaligus sholat ashar dan dzuhur yang digabung. Ada seratusan orang yang tengah beristirahat dan sholat. Aku duduk di sudut masjid sesuai sholat. Melamun dan menghitung kembali serta membandingkan berapa yang aku berikan pada yang membutuhkan dan berapa yang aku konsumsi sendiri selama bulan puasa. Aku mengkonsumsi lebih banyak ketimbang yang aku berikan pada yang membutuhkan. Bulan puasa selalu tampak seperti sebuah bulan pesta pora dengan bungkus ibadah. Kita mengkonsumsi apapun lebih banyak dari biasanya. Perilaku ini membuat semua komoditas mengalami kenaikan harga yang ujung-ujungnya yang miskin juga yang sengsara. Kita memang memberi tapi terlalu sedikit tidak sebanding dengan akibat dari pola konsumsi yang membuat si miskin semakin terjepit. Puasa katanya mengajarkan agar kita ikut merasakan penderitaan orang miskin yang selalu merasa kekurangan. Seharusnya dibulan ini kita mengkonsumsi lebih sedikit dan memberikan lebih banyak agar kita benar-benar merasakan bagaimana hidup dalam keterbatasan. Sayangnya budaya telah membalik keadan itu. Kita hanya memberi sebatas beramal tanpa benar-benar berkehendak merasakan kekurangan dan penderitaan yang sebenarnya seraya memanjakan saudara-saudara kita yang miskin. Kali ini aku tidak melihat jejak puasa dalam diriku. Aku malu.
Kedawung, jam 7 pagi yang sangat dingin di kaki gunung Slamet.
Ini adalah shalat idul fitri yang sekian belas kali dalam hidupku sejak aku mulai ikut shalat. Seorang khatib menjelaskan tentang pelajaran puasa bagi manusia. Ia berkata alangkah beruntungnya manusia yang dibulan puasa melakukan ibadah, berbuat kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah, melakukan amal sholeh dengan lebih peduli pada anak-anak yatim dan orang miskin. Sebaliknya, katanya alangkah hinanya manusia yang pada bulan ini abai pada anak yatim dan orang miskin.
Kalimat “alangkah hinanya” membuat aku malu untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang memperoleh kemenangan setelah sebulan puasa dengan sehari bolong gara-gara mudik atau tidak. Aku hanya merasa seperti seorang yang pulang pagi dan kelelahan setelah berpesta pora semalam penuh.
Sesaat kemudian puluhan SMS ucapan selamat idul fitri masuk dalam ponselku. Aku semakin malu.
0 Responses to “Cerita Dari Atas Roda”