Archive for October, 2009

06
Oct
09

Cerita Dari Atas Kursi 12A

Untuk urusan arus balik lebaran kali ini aku mempercayakan sepenuhnya pada kereta Cirebon Express yang sekarang sudah melayani rute ke Brebes dan Tegal. Seminggu sebelum keberangkatan tiket sudah kupesan. Sebuah tiket kelas eksekutif dengan nomor kursi 12A gerbong 2, keberangkatan dari Brebes jam 13.30.

Pada hari keberangkatan tepat dipenghujung bulan september, cerita bemula dari kereta yang terlambat selama satu jam. Sebuah cerita lama yang membuat sepotong syair lagu Iwan Fals tetap relevan. Tidak ada permintaan maaf dari sang petugas yang mengumumkan perilah keterlambatan itu. penumpangpun tampak acuh. Sebuah apatisme massal telah muncul terhadap layanan umum di indonesia. Masyarakat sudah apatis terhadap kualitas layanan umum. Apatisme massal muncul karena masyarakat sudah jenuh dan tidak tahu harus melakukan apa untuk sekedar mencari tahu apalagi untuk mencoba komplain dan menuntut kualitas layanan umum.

Sekitar jam 14.30 kereta datang. Penumpang segera menghambur menghampiri nomor gerbong yang sesuai dengan yang tertulis di karcis. Kebingungan muncul di wajah para penumpang karena nomor gerbong berbeda. Ada nomor lama dan nomor baru yang berbeda angkanya. Pada satu gerbong misalnya tertulis nomor 1 yang kelihatanya cetakan lama dan nomor 2 yang sepertinya tempelan baru. Para penumpang saling bertanya dan saling meyakinkan. Sangat menggelikan.

Memasuki gerbong aku segera mendapatkan kursi 12A yang tidak jauh dari pintu masuk. Ini dia kursi kelas eksekutif itu! sebuah kursi yang menempel jendela. Ah beruntung, duduk di kursi dekat jendela adalah kesukaanku bila pergi naik bis, kereta atau pesawat. Lebih beruntung lagi kalau siapa tahu teman seperjalananku gadis cantik. Lima menit berikutnya tiga orang masuk, seorang nenek dengan cucunya yang masih bayi dan laki-laki dan perempuan muda yang pastinya orang tua sang bayi. Mereka bertiga duduk disebelahku. Pupus sudah harapanku. Untuk urusan ini memang aku tidak pernah beruntungJ sambil menunggu keberangkatan, keluarga itu membuka bunkusan makan siang. Aromanya fuih… aku yang tidak terbiasa makan di kendaraan langsung mual. Mereka tampak lahap. Dan alamak selesai makan ayah si bayi cuci tangan di depan kursiku yang ia pakai karena masih kosong. Basahlah lantai gerbong. Wibawa kursi kelas eksekutif mulai luntur!

Kereta berjalan. Stasiun demi stasiun kecil di Brebes lewat. Aku mengamati kursi disebelahku, penumpang sebelahku tampak kesal karena stepfoot berikut tempat menaruh koran dikursinya sudah tidak ada. Koyak moyak entah kenapa. Tidak terbayang kaki ukuran sebesar apa yang sanggup mematahkan stepfoot sekuat itu. Aku mencoba menginjak keras-keras stepfoot dikursiku untuk mencoba seberapa kuat konstruksinya. Lebih aneh lagi kenapa PJKA tidak mau membetulkan hal sederhana yang berpengaruh pada mutu layanan kursi kelas eksekutif itu.

Kereta masih sepi saat memasuki cirebon. Kulihat si nenek tertidur pulas bersama bayinya. Dan alamak… ia mengangkat kakinya dan menaruhnya di sandaran tangan kursi didepannya. Sebuah pemandangan yang sangat tidak sedap. Kalau ia sedang main bola pastilah sudah kena sangsi wasit karena mengangkat kaki terlalu tinggiJ. sementara si lelaki, sang menantu terlentang tidur dikursi didepannya yang belum terisi penumpang. Sang perempuan, ibu si bayi tertidur disampingku dengan melipat kakinya keatas kursi. Seolah disampingnya adalah hanya seonggok patung lelaki yang sedang termangu. Demikianlah… ruang publik secara psikologis sanggup menelan identitas personal seseorang. Beberapa orang biasanya secara tidak sadar kehilangan identitas pribadinya. Yang muncul adalah perilaku massal. Keluarga itu kehilangan identitas personalnya ditelan gerbong kereta.

Di sebuah stasiun di wilayah Cirebon kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Serombongan orang naik tampaknya sebuah keluarga dengan dua anak kecil dan beberapa kardus serta koper yang merepotkan. Ia mondar-mandir mencari kursi bernomor 14! Padahal di gerbong itu nomor kursi hanya sampai 13! Ia bertanya kesana kemari sambil selalu memastikan tulisan yang tercetak di kacisnya. Penumpang lain ikut kebingungan. Akhirnya mereka bergerak kebelakang setelah bolak-balik tidak juga menemukan kursi yang dimaksud. Sejak itu aku tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Seorang lelaki membentak istrinya yang sedari tadi kebingungan mencari pintu toilet yang terisi air. Rupanya tidak semua toliet terisi air. Bentakan yang membangunkan penumpang lain yang sedang tidur. Hmm… kalau ditempat umum saja sang suami masih sanggup membentak istrinya bagaimana kalau ditempat tidur ya?

Toilet adalah hal paling tidak penting di negeri ini. Aku yang mengidap stres lingkungan sampai sekarang tidak pernah berani berurusan dengan toilet umum atau toilet yang belum kukenal kecuali sangat terpaksa. Panggilan alam sepanjang perjalanan itu terpaksa aku abaikanL

Memasuki stasiun besar Cirebon, penumpang bertambah ramai, kursi terisi semua. Kereta berhenti sekitar 15 menit. Lewat pengeras suara, petugas meminta maaf atas keterlambatan kereta. Sebuah layanan yang tidak standar antar stasiun. Dari balik jendela aku melihat para pengantar tampak tidak mau melepaskan pandangannya dengan orang-orang tercintanya yang sudah berada diatas kereta. Bahkan saat kereta itu mulai berjalan, para pengantar ikut berjalan seolah tidak mau melepaskan pandangannya. Cinta memang indah dan mempesona.

Selepas Cirebon kereta, melaju dengan dominasi pemandangan sawah-sawah kering kerontang terpanggang matahari kemarau. Memasuki sebuah perrkampungan sekelompok anak dengan iseng melempar kereta dengan batu. Sebuah cerita lama yang tidak pernah selesai. Seorang pramugari bolak-balik menawarkan pesanan minuman dan makanan. Sampai di kursi no. 13 tepat didepanku ia menawari dua penumpang apakah akan memesan minuman atau tidak. Seorang penumpang menjawab, “ Saya ingin memesan teh tapi mau ditaruh dimana, di kursi ini tidak ada tempat menaruh gelas”. Sesaat sang pramugari melirik ke arah jendela dan benar saja di kursi itu tidak ada tempat menaruh gelas sebagaimana kursi lainya. Sang pramugari cantik yang tampak kelelahan hanya tersenyum malu sambil memberi saran sekenanya “ Gelasnya bisa bapak pegang kok”. Penumpang menjawab sambil bercanda. “Sejauh itu saya harus memegangi gelas panas?”

Percakapan terhenti begitu saja tanpa ada pesanan minuman seperti yang diharapkan pramugari itu. Setelah itu dua penumpang di depanku kembali asik mengobrol soal politik. Ah apakah mereka tidak jemu ya dengan politik di Indonesia yang begitu membosankan dan penuh akrobat konyol.

Kereta terus melaju mengikuti lompatan waktu. Terang kemudian berangsur gelap. Lampu kabin menyala, aku mencoba menghidupkan lampu diatas tempat dudukku yang dua-duanya ternyata tidak menyala!

Ah bangsa ini baru sekadar bisa mengartikan kata kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif hanya menjadi deretan tarif yang berbeda, tapi belum bisa secara maksimal menerjemahkan ketiga kata itu dalam layanan sebagaimana mestinya. Rasanya kalau hanya mengandalkan perubahan mental secara alami perlu waktu seratus tahun kalau tanpa langkah-langkah revolusioner…

06
Oct
09

Cerita Dari Atas Roda

Depok, jam 5 pagi.

Untuk sebuah tradisi, tepat pada hari ke 28 Ramadhan aku memacu sepeda motorku menuju kampung halaman. Sudah dua kali aku pulang kampung dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah perjuangan yang tidak mudah setelah setiap tahun selalu mendapati kesulitan mendapatkan angkutan umum bus maupun kereta. Setiap kali mendatangi stasiun maupun terminal bus aku selalu merasa terhina dengan situasi yang ada. Bagaimana mungkin untuk mendapatkan sebuah tempat dalam bus maupun kereta harus berebut saling sikut, kadang malah ada yang memecahkan kaca untuk bisa masuk. Begitu selalu berulang setiap tahun. Belum lagi perlakuan para awak bus, calo maupun kenek yang menggunakan kesemptan itu untuk memeras penumpang. Seolah tidak ada lagi jejak ibadah puasa yang katanya mengajarkan kebaikan, kesabaran, toleransi. Manusia terlihat begitu buas.

Karawang, jam 10 pagi yang menyengat.

Kemacetan yang mengular membuat perjalanan terhambat beberapa jam. Sejauh mata memandang hanya terlihat puluhan ribu kepala tertutup helm. Udara sangat panas. Niatku untuk berpuasa pupus sudah, tidak sanggup menahan haus. Di sebuah rumah dengan warung yang agak lapang aku berhenti beristirahat, memesan minum, beberapa detik  kemudian batallah puasaku. Tepat di depan rumah tersebut ada sebuah kios bensin. Beberapa orang membeli karena memang sepanjang jalur itu hanya ada dua pom bensin yang jaraknya berjauhan dan karena kemacetan yang sangat parah membuat konsumsi bensin sangat boros. Beberapa motor mulai kehabisan bahan bakar. Beberapa pembeli bensin tampak sangat kecewa karena harga bensin melonjak dua kali lipat menjadi sepuluh ribu untuk satu liternya. Apa boleh buat. Ada yang memaklumi ada juga yang menggerutu. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa yang mengajarkan pelayanan. Bagi para pedagang di sepanjang karawang dan sebagian dari kita, hidup adalah uang. Kita kadang  mengeruk keuntungan berlipat dengan memanfaatkan kesempatan yang tersedia tanpa perlu berhitung dengan etika. Lagi-lagi aku menemukan sisi buas manusia.

Subang, jam 12 siang.

Setelah lepas dari kemacetan di Karawang kini aku memasuki daerah Subang dengan tersendat di beberapa ruas. Pada pom bensin pertama yang kutemui aku langsung berhenti untuk mengisi bensin. Aku memaksakan diri tidak mengisi di kios bensin itu karena tidak sudi menjadi korban kebuasan para pedagang itu. Rupanya soal mengisi bensin juga bukan perkara mudah, aku memerlukan satu jam untuk urusan itu. Orang-orang saling memaki karena beberapa tidak sudi mengantri dan menyerobot. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa disini, tidak ada toleransi seperti yang diajarkan puasa. Semuanya mau menang sendiri tanpa peduli dengan yang lain, saling berebut tempat yang bukan haknya dengan jalan pintas. Persisi perilaku korupsi.  Manusia terlihat begitu egois.

Subang, penggal terakhir jam 2 siang yang menyengat.

Dibawah sengatan matahari pantura yang buas, sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang kinclong dan sebuah sepeda motor bebek dengan tiga penumpang: seorang lelaki, seorang wanita dan bocah balita berusia sekitar dua tahun. Mobil dan sepeda itu tepat berada disisiku yang merayap sangat pelan karena macet menjelang perempatan di sebuah pasar. Tepat saat mobil  dan sepeda motor berpenumpang tiga orang itu beriringan, sopir menengok ke kiri dan melihat sepeda motor itu. Ia kemudian mencolek penumpang perempuan disisinya sambil menunjuk sepeda motor itu. Perempuan itu menoleh sebentar kemudian kembali menekuni bacaannya. Tidak bereaksi. Aku melhat sang sopir yang mungkin suaminya berbicara entah apa, mungkin sedang membicarakan tiga penumpang sepeda motor itu. Mungkin sedang menyalahkan keluaraga itu karena membawa seorang bayi mudik dengan sepeda motor. Ada seribu alasan yang membuat keluarga itu mudik dengan mengunakan sepeda motor seraya membawa seorang balita. Kondisi yang mengancam keselamatan sang bayi. Tidak perlu memperbincangkan kenapa keluarga itu tetap nekat menerabas imbauan pemerintah untuk tidak membawa anak kecil di sepeda motor. Aku membayangkan sebuah solidaritas spontan yang muncul dari penumpang mobil  itu. Solidaritas untuk menawarkan sebuah ruang dalam mobil itu untuk ibu dan bayi yang terlihat kepayahan tersengat matahari, debu dan asap panas ribuan kendaraan. Mobil itu hanya berpenumpang dua orang, masih ada ruang kosong yang sejuk dibelakang.

Ruang (fisik maupun non fisik) adalah unsur penting solidaritas. Tidak ada solidaritas tanpa menyertakan ruang. Pada musim mudik kali ini aku masih melihat sepeda motor yang juga mengangkut anak kecil dan bayi. Jumlahnya sudah jauh berkurang. Perkiraanku hanya satu diantara seratusan motor. Pada saat yang sama juga aku melihat masih banyak ruang-ruang kosong yang sejuk dalam mobil-mobil mewah. Kalau saja puasa yang mengajarkan solidaritas benar-benar terinternalisasi pada setiap individu yang menjalaninya, tidak ada cerita seperti di atas. Akan muncul solidaritas-solidaritas spontan. Solidaritas untuk menawarkan ruang dan membaginya untuk anak-anak kecil yang kepayahan menyabung nyawa. Puasa yang datang sepanjang hidup kita belum juga mampu mengajarkan solidaritas yang spontan. Sebuah solidaritas yang sudah terinternalisasi, memasuki alam bawah sadar kita dan menjadikan solidaritas begitu tulus, asli dan indah.  Sayangnya kita masih memahami solidaritas sebatas kotak amal di masjid.

Indramayu, jam 15.30

Memasuki penggal pertama kota Indramayu aku berhenti di sebuah masjid untuk beristirahat sekaligus sholat ashar dan dzuhur yang digabung. Ada seratusan orang yang tengah beristirahat dan sholat. Aku duduk di sudut masjid sesuai sholat. Melamun dan menghitung kembali  serta membandingkan berapa yang aku berikan pada yang membutuhkan dan berapa yang aku konsumsi sendiri selama bulan puasa.  Aku mengkonsumsi lebih banyak ketimbang yang aku berikan pada yang membutuhkan. Bulan puasa selalu tampak seperti sebuah bulan pesta pora dengan bungkus ibadah. Kita mengkonsumsi apapun lebih banyak dari biasanya. Perilaku ini membuat semua komoditas mengalami kenaikan harga yang ujung-ujungnya yang miskin juga yang sengsara. Kita memang memberi tapi terlalu sedikit tidak sebanding dengan akibat dari pola konsumsi yang membuat si miskin semakin terjepit. Puasa katanya mengajarkan agar kita ikut merasakan penderitaan orang miskin yang selalu merasa kekurangan. Seharusnya dibulan ini kita mengkonsumsi lebih sedikit dan memberikan lebih banyak agar kita benar-benar merasakan bagaimana hidup dalam keterbatasan. Sayangnya budaya telah membalik keadan itu. Kita hanya memberi sebatas beramal tanpa benar-benar berkehendak merasakan kekurangan dan penderitaan yang sebenarnya seraya memanjakan saudara-saudara kita yang miskin. Kali ini aku tidak melihat jejak puasa dalam diriku. Aku malu.

Kedawung, jam 7 pagi yang sangat dingin di kaki gunung Slamet.

Ini adalah shalat idul fitri yang sekian belas kali dalam hidupku sejak aku mulai ikut shalat. Seorang khatib menjelaskan tentang pelajaran puasa bagi manusia. Ia berkata alangkah beruntungnya manusia yang dibulan puasa melakukan ibadah, berbuat kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah, melakukan amal sholeh dengan lebih peduli pada anak-anak yatim dan orang miskin. Sebaliknya, katanya alangkah hinanya manusia yang pada bulan ini abai pada anak yatim dan orang miskin.

Kalimat “alangkah hinanya” membuat aku malu untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang memperoleh kemenangan setelah sebulan puasa dengan sehari bolong gara-gara mudik atau tidak. Aku hanya merasa seperti seorang yang pulang pagi dan kelelahan setelah berpesta pora semalam penuh.

Sesaat kemudian puluhan SMS ucapan selamat idul fitri masuk dalam ponselku. Aku semakin malu.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.