Aku secara tidak sengaja melihat Kangen Band sedang manggung disebuah stasiun tv. Kulihat mereka sedang memainkan lagu yang berjudul (mungkin) Yolanda. Band kacrut ini (menurut istilah sebuah majalah remaja) seperti membius penonton yang bisa jadi akan mereka istilahkan juga sebagai golongan kacrut. Band ini menuai banyak kontroversi. Banyak yang menghujatnya tetapi banyak juga yang memujinya. Hujatan karena menurut para penghujat band ini telah merusak dan mencemari apa yang namanya musik. Lirik-lirik lagu, aransemen, tampang, sejarah dan penampilan band ini mereka anggap sama sekali tidak mewakili arus utama musik dan dunia keartisan Indonesia. Mereka telah berbuat dosa terhadap musik. Bahkan pernah beredar fatwa mati buat anggota band ini disebuah milis. Bagi yang memuji, inilah hasil sebuah etos kerja keras. Para personel band ini datang dari lingkungan marjinal. Ada yang berayah tukang becak, ada yang berprofesi penjual sandal keliling, penjual cendol. Nasib mempertemukan mereka dengan produser dan mulailah mereka menjadi selebritis. Mereka sukses.
Aku tidak menyukai musik-musik Kangen Band tetapi aku tidak akan ikut menghujat mereka hanya karena tidak menyukai musiknya. Aku lebih suka mengapresiasi apa yang telah mereka raih. Anak-anak muda ini telah menemukan jalan yang secara tidak sadar sedang mereka cari lewat perjuangan hidup mereka saat mereka belum merilis album. Mereka muncul dari kalangan tidak berpunya. Musik pastinya bukan cita-cita mereka, apalagi menjadi selebritis. Anak-anak muda ini hanya sekedar bertahan hidup sambil sesekali berkumpul untuk nge-band. Nasib kemudian berpihak kepadanya, sesuatu yang lazim bagi siapapun yang telah bekerja keras. Pasar kemudian merespon album mereka dengan baik. Tampang, lirik-lirik lagu, latar belakang nasib mereka begitu wewakili keseharian anak muda di Indonesia. Mereka membawakan lagu-lagu yang terkesan lugu dan kampungan tetapi justru syair-syair lagu itu yang dekat dengan keseharian jutaan anak muda disini. Mereka menjadi tidak berjarak dengan kehidupan riil masyarakat. Aku juga suka mereka merekrut penyanyi wanita yang sama sekali tidak bertampang artis. Sederhanan dan memakai kerudung. Mereka tetap orang kampung yang mungkin tidak betah dengan orang kota. Bisa jadi mereka memang sengaja memberikan kesempatan orang-orang yang terpingirkan arus utama. Mereka tidak lantas latah dengan ketenaranya, masuk arus utama dunia selebritis di Indonesia. Lebih dari itu kesuksesan mereka mengispirasi anak-anak muda yang jauh dari fasilitas, tampang dan modal kapital. Dengan kerja keras, nasib akan memihak.
Ketidaksukaan individu-individu pada group band ini juga sebenarnya adalah fenomena umum segelintir masyarakat yang merasa paling tahu akan segala hal. Orang-orang yang tidak suka merasa mereka adalah penentu standar kualitas musik dan tampang artis. Sama seperti pengambil kebijakan di pemerintahan yang selalu mempertahankan pembangunan ekonomi berdasarkan kapital besar, pasar uang, bank dan saham. Mereka tidak mau memahami meskipun tahu bahwa ketahanan ekonomi bangsa ini terletak di pedesaan dan usaha kecil menengah. Pergerakan usaha pedesaan ini yang paling kebal krisis tetapi selalu dianak tirikan, mendapat kucuran sisa-sisa kredit perbankan. Membiarkan mereka bertarung sendiran, tidak memberikan fasilitas apalagi proteksi. Mereka mengakui eksistensi usaha kecil ini seraya terus menerus mengingkarinya. Para pengambil keputusan ini cuma segelintir manusia picik yang takut kehilangan muka, uang, gengsi ditengah arus modernitas bangsa ini yang konyol.
Kembali ke Kangen Band…. Para pengkritik ini sebenarnya adalah sekumpulan orang-orang picik yang lahir lewat fasilitas kapital. Mereka merasa memiliki otoritas atas sekumpulan anak kampung yang beruntung itu. Mereka merasa memiliki otoritas untuk menentukan warna pasar musik, siapa yang boleh masuk dan berkarya. Mereka sekumpulan orang yang tidak bisa memaknai arti kerja keras. Mereka orang-orang yang lebih menyukai cara-cara pintas menjadi terkenal, lebih percaya pada pencarian bakat lewat kontes mimpi. Mereka orang yang mengangap dirinya raja yang merasa singgasana mereka tercemar oleh kedatangan anak-anak kampung itu.
Kemarin saat jalan-jalan di Detos, aku lihat vokalis band ini nampang dengan vokalis-vokalis band terkenal lainnya sedang menjajakan sebuah produk. Ia sudah jadi bintang iklan, berderet dengan selebritis “beneran” lainnya. Ah aku suka melihat fotonya… gambaran cerita moral nenek moyang: miskin, kerja keras, bermimpi lalu Tuhan akan mewujudkan mimpimu pada saat yang tepat.
rumahkancil, juli 2009
“…orang-orang picik yang lahir lewat fasilitas kapital.”
OH REEEAALLYYYY???
saya sebagai apresiator musik terus terang jengah dengan kehadiran mereka dan kenyataan bahwa mereka disukai publik. kami tidak ingin ‘menentukan warna musik pasar’ seperti yang sampeyan bilang, tapi oh my God… they’re a goddamn disaster, man! musik mereka itu… @$#%!@$!&&%&$!!!! –>*kehabisan kata-kata makian*
saya tidak akan membahas tampang karena yang namanya tampang itu ‘udah dari sononya’, jadi kita mau ‘ngutak-ngatik’ juga terbatas. musik mereka menggelikan(kalau tidak mau dibilang menjijikkan). mereka tidak membawa kualitas musik apapun. materi lagu membosankan. lirik gak menyentuh, gak puitis, gak menarik, gak membawa perasaaan, klise, basi. kemampuan musikalitas… saya cuma bisa facepalm. saya gak ngerti dimana bagusnya musik seperti itu. mereka cuma orang-orang yang sekedar bisa genjrang-genjreng dan tau do-re-mi-fa-sol-la-si-do. orang-orang yang belajar musik sampe ke luar negeri, ngerti musik secara mendalam, DIANGGAP APA???!!!
saya tahu saya tidak akan bisa melawan major label dengan musik2 kacangannya itu. saya cuma ingin sedikit menumpahkan kekesalan karena tulisan sampeyan yang sedikit banyak menyinggung perasaan saya sebagai apresiator musik. untuk pilihan sikap, saya mendukung musik indie. hidup musik indie! hidup hiburan berkualitas!! hidup kreativitas!!
p.s: jangan dimasukin ke hati. saya suka tulisan-tulisan sampeyan lainnya
Terima kasih komennya, sangat menarik!.
Saya juga tidak menyukai musik mereka, saya lebih suka mengapresiasi kerja keras mereka. dan seperti Anda, saya pesimis dengan industri musik di Indonesia yang saat ini masih suka memilih musik-musik “kacangan” dan rasanya begitulah selera pasar saat ini. Saya rasa mereka berada pada saat yang tepat. Kalau mereka bermain musik pada eranya Good Bless, Fariz RM mereka tidak akan dilirik major label. Tetapi saya rasa poin penting dari tulisan saya : bekerja keras maka nasib akan berpihak.
Dan musik indie: Hidup musik indie!