25
Mar
09

Maha Guru Kehidupan

Untuk pembuatan dua film dokumenter, bulan ini aku merekam kehidupan dua orang hebat. Dia bukan politikus, ilmuwan, pejabat, orang kaya atau orang alim. Dua orang ini lelaki lugu lagi miskin, Badri Ismaya dan Rudi MS. Kedua pria ini tinggal di kawasan Puncak, Bogor.

Badri Ismaya adalah seorang lelaki yang mendedikasikan hidupnya sebagai penanam pohon. Ia mulai melakukan aktifitas ini sejak tahun 1975 sebagai bentuk pertobatanya sebagai pembalak liar sebelumnya. Ia tersadarkan saat beristirahat sesaat setelah menebang pohon. Setetes air menetes kewajahnya dan ia merasakan kesejukan yang luar biasa. Dari situlah ia bertobat dan menebus dosanya dengan menanam pohon.

Kalau anda melewati kawasan Puncak, sebagian pohon yang dapat anda lihat adalah hasil tanamannya. Ia menanam dimanapun ada tanah kosong dan lahan-lahan kritis di kawasan Puncak. Tidak peduli panas dan hujan setiap hari ia akan menanam. Dalam kondisi sakitpun ia akan menanam seperti yang aku rekam saat itu. Dalam sehari ia sanggup menanam seratus sampai lima ratus pohon. Semua biaya operasional ia tanggung sendiri, mulai transportasi dan bibit. Sesekali ia mendapat bantuan dari pemerintah atau organisasi lain. Selama puluhan tahun ia berjuang sendirian, tidak satupun yang sanggup mengikuti jejak komitmenya pada lingkungan. Beberapa waktu terakhir ini ia mendapat bantuan seorang anak laki-lakinya dan dua anak muda tetangganya yang menurutnya masih diuji komitmennya. Ia menghidupi keluarganya dari bertanam jamur. Tidak sesenpun ia mau menerima uang bila ada proyek penanaman seperti saat aku menemuinya. Proyek penanaman sejuta pohon di puncak dibebankan padanya. Ia tidak mau menerima uang, ia hanya mau menerima bibit yang kemudian akan ditanamnya.

Untuk meyakinkan apa fungsi pohon yang sesungguhnya, selama setahun ia melakukan eksperimen untuk mengetahui berapa jumlah air yang mampu diserap oleh tanah yang diatasnya terdapat sebatang pohon. Dalam eksperimennya ia menghitung curah hujan dan lama hujan dalam setahun di kawasan puncak, lalu menampung air hujan itu selama musim hujan dari air yang mengalir melalui batang pohon dan tutupan kanopinya. Dari eksperimennya pada sebuah pohon alpukat yang memiliki kanopi kira-kira limapuluh meter persegi, dalam setahun ia berkesimpulan ada sembilan juta liter air yang mampu ditahan oleh akarnya dalam tanah. Ia mengaku penelitian ini telah divalidasi oleh seorang mahasiswa S3 IPB yang melakukan penelitian yang sama. Dari situ ia semakin meyakini apa yang dilakukanya sangat bermanfaat.

Rudi MS adalah seorang tunadaksa yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajar anak-anak buruh pemetik teh yang sangat miskin di desa Cikoneng, Puncak. Ia harus berjalan dengan dibantu tongkat. Kaki kanannya tidak berfungsi lagi karena sebuah kecelakaan pada masa mudanya. Ia memulai aktivitasnya sejak tahun 1982 saat ia menjelajah kawasan ini dan menemukan anak-anak yang tidak bersekolah. Ia lalu bertekad membagikan ilmu baca tulis yang ia miliki pada anak-anak itu. Ia mendirikan sekolah non formal disebuah bedeng penimbangan teh sampai tahun 1987. Pada tahun itu pemerintah memformalkan sekolah itu menjadi sebuah SD Negeri. Saat ini sebuah bangunan yang cukup layak sudah berdiri ditengah perkampungan kebuh teh itu. Ia dibantu oleh beberapa guru. Semua guru sudah berstatus PNS, namun ia sendiri masih bersatus honorer. Sungguh ironis. Ia sebagai pendiri dan telah mendedikasikan hidupnya tidak mendapat perhatian selayaknya dari pemerintah. Untuk menghidupi keluarganya ia membuka warung di depan rumahnya, melayani anak-anak didiknya yang sangat miskin, setiap akhir pekan ia akan turun dari kampungya dan menjadi tukang parkir atau menjaga WC di kawasan wisata Puncak.

Aku merekam semangat dan ketulusan yang sama dari dua maha guru kehidupan ini. Mereka orang-orang yang telah mengorbankan diri dan hidupnya demi orang lain. Mereka orang-orang yang sudah mampu membuang ego dan melupakan dirinya. Mereka orang-orang yang tidak berkehendak dipahami. Mereka orang-orang yang telah mampu memahami lingkungan dan orang lain. Badri Ismaya misalnya, ia mengaku tidak tega melihat bumi merana tanpa pohon, ia selalu khawatir dengan ketersediaan air dalam tanah. Rudi tidak tega meninggalkan anak-anak buruh itu tanpa kemampuan baca tulis. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari yang mereka lakukan. Mereka tetap miskin, kadang dicaci, dianggap bodoh dan tidak rasional. Memang bukan materi atau tujuan-tujuan popularitas yang mereka inginkan. Mereka mengaku bahwa mereka harus mengambil tanggung jawab atas persoalan yang mereka geluti. Memastikan ada pohon yang masih tumbuh dan memastikan anak-anak itu bisa membaca dan menulis. Dari semua yang mereka lakukan, mereka mendapatkan kepuasan batin. Itulah kenapa Badri tidak mengijinkan aku merekam hadiah kalpataru yang ia terima. Ia mengaku bukan kalpataru yang ia inginkan tetapi kesadaran masyarakat akan lingkungan. Ia mengaku malu dengan hadiah itu karena ia merasa belum melakukan apa-apa. Ia menyimpan rapat hadiah itu dalam lemari bajunya. Rudi tidak mempermasalahkan statusnya yang hanya pegawai honorer kendati dialah yang justru membuka jalan bagi guru-guru lain menjadi PNS. Ia puas kalau anak-anak buruh itu bisa membaca dan menulis. Ia puas telah membuat jembatan bagi anak-anak itu untuk keluar dari kemiskinan kendati untuk itu ia malah terjebak menjadi miskin dan kehilangan kesempatan yang mungkin lebih baik.

Badri Ismaya, bertahun-tahun menjaga dan memastikan tetap ada tetes air yang mengalir dalam tenggorokan kita. Rudi MS dalam kecacatanya berusaha memastikan negeri ini tidak lekas roboh karena kebodohan.

Mereka orang-orang yang mampu melupakan dirinya, sekaligus sanggup mengukir namanya diatas langit. Jauh dari keriuhan ego manusia, menyatu dengan nama Tuhan yang Agung.

Ah..aku malu meneruskan menuliskan tentang kisah mereka yang begitu agung. Aku, sejauh hidupku hanya sanggup memikirkan diriku sendiri.

rumahkancil, maret 2009


0 Responses to “Maha Guru Kehidupan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.