“Berapa uang mukanya kemarin?”, Aku bertanya pada ibuku saat kami menunggui ayahku yang sedang dirawat di rumah sakit.
“Disini ndak pakai uang muka, semua pembayaran juga dilakukan setelah pasien hendak meninggalkan rumah sakit”. Ibuku menjawab. Aku terheran.
Selama seminggu ayahku dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah, Moga Pemalang. Rumah sakit kecil ini jadi pilihan karena ia terdekat dari rumah sekitar sepuluh kilometer dengan udara yang sejuk, jadi tidak menyusahkan ayahku yang seumur hidupnya tinggal di daerah sejuk. Selain itu memudahkan mobilitas keluarga yang menunggui.
Rumah Sakit Muhammadiyah Moga atau lebih dikenal sebagai rumah sakit Simadu ini menjadi andalan masyarakat sekitar Tegal bagian selatan timur dan Pemalang bagian barat, karena ia satu-satunya rumah sakit di daerah itu. Rumah sakit ini konon kata ayahku berdiri tahun 60-an dari sebuah puskesmas. Pada tahun 80-an rumah sakit ini begitu vital. Pada masa itu tenaga medis yang tersedia baru mantri kesehatan yang jumlahnya terbatas, salah satunya adalah ayahku. Puskesmaspun belum maksimal berfungsi. Pasien-pasien yang tidak mampu tertangani mantri biasanya langsung dirujuk ke rumah sakit ini.
Setelah puluhan tahun rumah sakit ini tidak banyak berubah. Hanya kulihat ada bangunan baru dibelakang rumah sakit yang katanya untuk bangsal kelas satu. Sudah beroperasi tapi masih sepi yang membuat ayahku menolak dirawat di kamar kelas satu itu. Ia memilih kelas dua yang ramai. Fasilitas yang kulihatpun masih terbilang sederhana. Sebuah UGD, beberapa klinik, sebuah laboratorium kecil dan kamar operasi. Beberapa nama dokter terlihat dipapan depan rumah sakit ini. Hanya beberapa dokter umum, dua sampai tiga dokter spesialis yang hanya datang pada hari-hari tertentu.
Keistimewaan rumah sakit ini adalah tidak memungut uang muka untuk setiap pasien yang masuk. Semua pasien dari golongan apapun dilayani sama. Keluarga pasien akan ditanya dengan fasilitas biaya apa untuk perawatan pasien. Dengan jamkesmas, askes, atau biaya sendiri. Setelah itu pasien akan dirawat sebagaimana mestinya. Keluarga pasien juga tidak perlu menebus obat setiap hari seperti pada rumah sakit yang lain. Semua perawatan dan obat-obatan sudah disediakan. Semua penghitungan biaya baru dilakukan setelah perawatan selesai saat pasien sudah diperbolehkan pulang. Sangat mudah. Biaya perawatan bisa ditekan karena obat yang dipakai sangat efisien. Keluarga pasien tidak perlu menebus obat sendiri setiap hari yang membuat pemakaian obat kadang menjadi tidak efisien karena biasanya dokter memberikan jumlah obat yang berlebih. Secara berkala seorang alim mendatangi tiap bangsal, memberikan bimbingan rohani pada pasien dan keluarganya. Bagi keluarga pasien yang tidak mampu melunasi biayapun masih bisa berhutang. Cukup meninggalkan alamat lengkap dan niat baik.
Ditengah perubahan nilai-nilai falsafah pengobatan, rumah sakit ini tetap mampu mempertahankan nilai luhurnya. Tidak terjebak pada kapitalisasi medis seperti rumah sakit lainnya. Rumah sakit ini tetap mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak tergilas oleh tangan-tangan kapitalis yang merupiahkan setiap nyawa yang hendak digantungkannya. Rumah sakit ini masih mampu menghargai derajat kemanusiaan pasien dan keluarganya. Masih mampu memberikan harapan sekaligus angin sejuk ditengah industri kesehatan yang begitu menggila dan semakin tidak manusiawi. Belum pernah ada pasien kabur karena soal biaya. Rumah sakit sangat menghargai nyawa dan keselamatan pasien, keluarga pasien pun sangat menghargai upaya rumah sakit menyelamatkan keluarganya. Sebuah relasi kemanusiaan yang indah.
rumahkancil, maret 2009
Tlong smpein smoga pasien yuliana dr kajenengan cpt smbuh..
By uliz