Archive for March, 2009

25
Mar
09

tuhhhhh…bule aja doyan

Ingimages2et kan iklan sebuah produk kopi yang diperankan oleh Luna Maya yang sedang melayani bule itu? iklan ini dugaanku (sotoyku kumat) mencoba mengusik rasa rendah diri sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat kita selalu menjadikan dunia barat sebagai tolak ukur sampai-sampai soal rasapun dalam iklan itu harus mengacu lidah si bule tadi. Menurutku menjadikan dunia barat sebagai acuan tentu sah-sah saja, apalagi dalam hal kemajuan teknologi. Hanya saja ukuran-ukuran tersebut jangan lantas menjadikan kita rendah diri: kalau bule pasti oke. Dan aku menduga kopi itu laris manis.

Mentalitas inlander kita setelah lebih dari 60 tahun merdeka rupanya tidak juga beranjak menjauh. Dari rakyat kecil sampai pemimpin semua bermental inlander. Mudah didikte oleh bangsa asing, pejabat kita bangga mendapat kepercayaan donor asing, lebih suka produk impor. Pendeknya merendahkan diri sendiri dan kemampuan sendiri.

Ayo…lawan mentalitas inlander bangsa ini, jangan malu menjadi diri sendiri, jangan mau seperti Luna Maya… jadilah Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan Syahrir.

25
Mar
09

Maha Guru Kehidupan

Untuk pembuatan dua film dokumenter, bulan ini aku merekam kehidupan dua orang hebat. Dia bukan politikus, ilmuwan, pejabat, orang kaya atau orang alim. Dua orang ini lelaki lugu lagi miskin, Badri Ismaya dan Rudi MS. Kedua pria ini tinggal di kawasan Puncak, Bogor.

Badri Ismaya adalah seorang lelaki yang mendedikasikan hidupnya sebagai penanam pohon. Ia mulai melakukan aktifitas ini sejak tahun 1975 sebagai bentuk pertobatanya sebagai pembalak liar sebelumnya. Ia tersadarkan saat beristirahat sesaat setelah menebang pohon. Setetes air menetes kewajahnya dan ia merasakan kesejukan yang luar biasa. Dari situlah ia bertobat dan menebus dosanya dengan menanam pohon.

Kalau anda melewati kawasan Puncak, sebagian pohon yang dapat anda lihat adalah hasil tanamannya. Ia menanam dimanapun ada tanah kosong dan lahan-lahan kritis di kawasan Puncak. Tidak peduli panas dan hujan setiap hari ia akan menanam. Dalam kondisi sakitpun ia akan menanam seperti yang aku rekam saat itu. Dalam sehari ia sanggup menanam seratus sampai lima ratus pohon. Semua biaya operasional ia tanggung sendiri, mulai transportasi dan bibit. Sesekali ia mendapat bantuan dari pemerintah atau organisasi lain. Selama puluhan tahun ia berjuang sendirian, tidak satupun yang sanggup mengikuti jejak komitmenya pada lingkungan. Beberapa waktu terakhir ini ia mendapat bantuan seorang anak laki-lakinya dan dua anak muda tetangganya yang menurutnya masih diuji komitmennya. Ia menghidupi keluarganya dari bertanam jamur. Tidak sesenpun ia mau menerima uang bila ada proyek penanaman seperti saat aku menemuinya. Proyek penanaman sejuta pohon di puncak dibebankan padanya. Ia tidak mau menerima uang, ia hanya mau menerima bibit yang kemudian akan ditanamnya.

Untuk meyakinkan apa fungsi pohon yang sesungguhnya, selama setahun ia melakukan eksperimen untuk mengetahui berapa jumlah air yang mampu diserap oleh tanah yang diatasnya terdapat sebatang pohon. Dalam eksperimennya ia menghitung curah hujan dan lama hujan dalam setahun di kawasan puncak, lalu menampung air hujan itu selama musim hujan dari air yang mengalir melalui batang pohon dan tutupan kanopinya. Dari eksperimennya pada sebuah pohon alpukat yang memiliki kanopi kira-kira limapuluh meter persegi, dalam setahun ia berkesimpulan ada sembilan juta liter air yang mampu ditahan oleh akarnya dalam tanah. Ia mengaku penelitian ini telah divalidasi oleh seorang mahasiswa S3 IPB yang melakukan penelitian yang sama. Dari situ ia semakin meyakini apa yang dilakukanya sangat bermanfaat.

Rudi MS adalah seorang tunadaksa yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajar anak-anak buruh pemetik teh yang sangat miskin di desa Cikoneng, Puncak. Ia harus berjalan dengan dibantu tongkat. Kaki kanannya tidak berfungsi lagi karena sebuah kecelakaan pada masa mudanya. Ia memulai aktivitasnya sejak tahun 1982 saat ia menjelajah kawasan ini dan menemukan anak-anak yang tidak bersekolah. Ia lalu bertekad membagikan ilmu baca tulis yang ia miliki pada anak-anak itu. Ia mendirikan sekolah non formal disebuah bedeng penimbangan teh sampai tahun 1987. Pada tahun itu pemerintah memformalkan sekolah itu menjadi sebuah SD Negeri. Saat ini sebuah bangunan yang cukup layak sudah berdiri ditengah perkampungan kebuh teh itu. Ia dibantu oleh beberapa guru. Semua guru sudah berstatus PNS, namun ia sendiri masih bersatus honorer. Sungguh ironis. Ia sebagai pendiri dan telah mendedikasikan hidupnya tidak mendapat perhatian selayaknya dari pemerintah. Untuk menghidupi keluarganya ia membuka warung di depan rumahnya, melayani anak-anak didiknya yang sangat miskin, setiap akhir pekan ia akan turun dari kampungya dan menjadi tukang parkir atau menjaga WC di kawasan wisata Puncak.

Aku merekam semangat dan ketulusan yang sama dari dua maha guru kehidupan ini. Mereka orang-orang yang telah mengorbankan diri dan hidupnya demi orang lain. Mereka orang-orang yang sudah mampu membuang ego dan melupakan dirinya. Mereka orang-orang yang tidak berkehendak dipahami. Mereka orang-orang yang telah mampu memahami lingkungan dan orang lain. Badri Ismaya misalnya, ia mengaku tidak tega melihat bumi merana tanpa pohon, ia selalu khawatir dengan ketersediaan air dalam tanah. Rudi tidak tega meninggalkan anak-anak buruh itu tanpa kemampuan baca tulis. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari yang mereka lakukan. Mereka tetap miskin, kadang dicaci, dianggap bodoh dan tidak rasional. Memang bukan materi atau tujuan-tujuan popularitas yang mereka inginkan. Mereka mengaku bahwa mereka harus mengambil tanggung jawab atas persoalan yang mereka geluti. Memastikan ada pohon yang masih tumbuh dan memastikan anak-anak itu bisa membaca dan menulis. Dari semua yang mereka lakukan, mereka mendapatkan kepuasan batin. Itulah kenapa Badri tidak mengijinkan aku merekam hadiah kalpataru yang ia terima. Ia mengaku bukan kalpataru yang ia inginkan tetapi kesadaran masyarakat akan lingkungan. Ia mengaku malu dengan hadiah itu karena ia merasa belum melakukan apa-apa. Ia menyimpan rapat hadiah itu dalam lemari bajunya. Rudi tidak mempermasalahkan statusnya yang hanya pegawai honorer kendati dialah yang justru membuka jalan bagi guru-guru lain menjadi PNS. Ia puas kalau anak-anak buruh itu bisa membaca dan menulis. Ia puas telah membuat jembatan bagi anak-anak itu untuk keluar dari kemiskinan kendati untuk itu ia malah terjebak menjadi miskin dan kehilangan kesempatan yang mungkin lebih baik.

Badri Ismaya, bertahun-tahun menjaga dan memastikan tetap ada tetes air yang mengalir dalam tenggorokan kita. Rudi MS dalam kecacatanya berusaha memastikan negeri ini tidak lekas roboh karena kebodohan.

Mereka orang-orang yang mampu melupakan dirinya, sekaligus sanggup mengukir namanya diatas langit. Jauh dari keriuhan ego manusia, menyatu dengan nama Tuhan yang Agung.

Ah..aku malu meneruskan menuliskan tentang kisah mereka yang begitu agung. Aku, sejauh hidupku hanya sanggup memikirkan diriku sendiri.

rumahkancil, maret 2009

23
Mar
09

Rumah Sakit Muhammadiyah Moga, Sebuah Oase

“Berapa uang mukanya kemarin?”, Aku bertanya pada ibuku saat kami menunggui ayahku yang sedang dirawat di rumah sakit.
“Disini ndak pakai uang muka, semua pembayaran juga dilakukan setelah pasien hendak meninggalkan rumah sakit”. Ibuku menjawab. Aku terheran.
Selama seminggu ayahku dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah, Moga Pemalang. Rumah sakit kecil ini jadi pilihan karena ia terdekat dari rumah sekitar sepuluh kilometer dengan udara yang sejuk, jadi tidak menyusahkan ayahku yang seumur hidupnya tinggal di daerah sejuk. Selain itu memudahkan mobilitas keluarga yang menunggui.
Rumah Sakit Muhammadiyah Moga atau lebih dikenal sebagai rumah sakit Simadu ini menjadi andalan masyarakat sekitar Tegal bagian selatan timur dan Pemalang bagian barat, karena ia satu-satunya rumah sakit di daerah itu. Rumah sakit ini konon kata ayahku berdiri tahun 60-an dari sebuah puskesmas. Pada tahun 80-an rumah sakit ini begitu vital. Pada masa itu tenaga medis yang tersedia baru mantri kesehatan yang jumlahnya terbatas, salah satunya adalah ayahku. Puskesmaspun belum maksimal berfungsi. Pasien-pasien yang tidak mampu tertangani mantri biasanya langsung dirujuk ke rumah sakit ini.
Setelah puluhan tahun rumah sakit ini tidak banyak berubah. Hanya kulihat ada bangunan baru dibelakang rumah sakit yang katanya untuk bangsal kelas satu. Sudah beroperasi tapi masih sepi yang membuat ayahku menolak dirawat di kamar kelas satu itu. Ia memilih kelas dua yang ramai. Fasilitas yang kulihatpun masih terbilang sederhana. Sebuah UGD, beberapa klinik, sebuah laboratorium kecil dan kamar operasi. Beberapa nama dokter terlihat dipapan depan rumah sakit ini. Hanya beberapa dokter umum, dua sampai tiga dokter spesialis yang hanya datang pada hari-hari tertentu.
Keistimewaan rumah sakit ini adalah tidak memungut uang muka untuk setiap pasien yang masuk. Semua pasien dari golongan apapun dilayani sama. Keluarga pasien akan ditanya dengan fasilitas biaya apa untuk perawatan pasien. Dengan jamkesmas, askes, atau biaya sendiri. Setelah itu pasien akan dirawat sebagaimana mestinya. Keluarga pasien juga tidak perlu menebus obat setiap hari seperti pada rumah sakit yang lain. Semua perawatan dan obat-obatan sudah disediakan. Semua penghitungan biaya baru dilakukan setelah perawatan selesai saat pasien sudah diperbolehkan pulang. Sangat mudah. Biaya perawatan bisa ditekan karena obat yang dipakai sangat efisien. Keluarga pasien tidak perlu menebus obat sendiri setiap hari yang membuat pemakaian obat kadang menjadi tidak efisien karena biasanya dokter memberikan jumlah obat yang berlebih. Secara berkala seorang alim mendatangi tiap bangsal, memberikan bimbingan rohani pada pasien dan keluarganya. Bagi keluarga pasien yang tidak mampu melunasi biayapun masih bisa berhutang. Cukup meninggalkan alamat lengkap dan niat baik.
Ditengah perubahan nilai-nilai falsafah pengobatan, rumah sakit ini tetap mampu mempertahankan nilai luhurnya. Tidak terjebak pada kapitalisasi medis seperti rumah sakit lainnya. Rumah sakit ini tetap mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak tergilas oleh tangan-tangan kapitalis yang merupiahkan setiap nyawa yang hendak digantungkannya. Rumah sakit ini masih mampu menghargai derajat kemanusiaan pasien dan keluarganya. Masih mampu memberikan harapan sekaligus angin sejuk ditengah industri kesehatan yang begitu menggila dan semakin tidak manusiawi. Belum pernah ada pasien kabur karena soal biaya. Rumah sakit sangat menghargai nyawa dan keselamatan pasien, keluarga pasien pun sangat menghargai upaya rumah sakit menyelamatkan keluarganya. Sebuah relasi kemanusiaan yang indah.

rumahkancil, maret 2009




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.