Di jalan raya Tanjung Barat selepas pom bensin arah ke Pasar Minggu ada seorang lelaki yang berprofesi sebagai “penyeberang orang”. Ia mengutip bayaran seikhlasnya untuk jasanya menyeberangkan orang di jalanan yang sangat padat dan sibuk. Ada kotak yang tersedia dimulut gang yang bertuliskan “kotak amal penyeberangan”. Ada yang memberi uang, banyak yang hanya memberi ucapan terima kasih. Kondisi lalu lintas di daerah itu memang tidak memberikan kemudahan bagi siapapun untuk menyeberang. Motor yang berjalan seperti kesetanan setelah lepas dari kemacetan di Lenteng Agung, jelas sangat berbahaya bagi yang tidak “profesional”. Peluang inilah yang ditangkap oleh pria berusia 40-an tahun itu. Bermodalkan peluit dan papan bertuliskan “stop” ia menyeberangkan orang, memotong laju kendaraan dan bertaruh nyawa.
Bertahun-tahun di Jakarta, karena pekerjaanku aku punya kesempatan bolak-balik memasuki kolong-kolong jembatan sampai istana presiden, aku melihat banyak profesi dan ragam kehidupan manusia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Banyak profesi yang tidak dikenal sebelumnya yang muncul atas desakan mempertahankan kehidupan. Menyeberangkan orang di jalan raya, menjadi penjaga pintu lift yang bertugas memencet tombol penunjuk lantai, memungut sisa-sisa beras di pasar beras Cipinang, menjadi penyapu sampah di KRL sambil sesekali memakan sampah itu untuk memaksa penumpang memberi uang dan sebagainya. Tinggal di rumah-rumah kardus di tengah-tengah lintasan rel di Pasar Senen, menghuni kolong-kolong jalan layang, hidup diatas gerobak. Hidup dalam rumah dengan pengaturan shift layaknya orang bekerja juga pernah kulihat. Rumah yang sangat sempit memaksa anggota keluarganya mengatur shift waktu tidur.
Ragam profesi dan kehidupan itu adalah mekanisme survival of the fittest. Istilah yang dikemukakan oleh Herbert Spencer yang diadopsi oleh Charles Darwin untuk teori evolusinya. Yang kuatlah yang akan bertahan, begitu kira-kira artinya.
Jakarta menjanjikan kehidupan bagi siapapun yang mau hidup di dalamnya. Bertemunya berbagai macam bentuk kehidupan ditambah semrawutnya kota ini memungkinkan orang-orang mengkreasi berbagai profesi. Tidak ada yang melarang anda hendak jadi apa dan tinggal dimana. Tidak ada batas disini. Anda bisa hidup asal tidak malu. Jakarta memberi kesempatan bagi siapapun untuk menerapkan teori seleksi alam itu. Jakarta memberi kesempatan untuk menguji batas anda sebagai manusia.
Jakarta betapapun tidak manusiawinya tetaplah sebuah kota yang menjanjikan. Kota yang mampu mewujudkan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Sesuatu yang tidak pernah anda pikirkan sejak pertama kali mengangkat koper dan memutuskan pergi ke kota ini.
Cobalah…
Rumahkancil, 7 januari 2009
Jakarta tetap punya daya tarik, karena di kota metropolitan ini, asalkan “mau bergerak”, orang bisa mencari nafkah. Meski hidup dengan amat sederhana atau bahkan mengenaskan, yang penting masih bisa hidup…