Archive for January, 2009

30
Jan
09

Sepiring Berdua

Anda tentu pernah mendengar dua kata diatas. Dalam perjalanan ke Jogjakarta untuk sebuah liputan aku mendengar lagu berjudul diatas sepanjang perjalanan karena sang driver tidak menyediakan pilihan lain selain sebuah kaset yang berisi kumpulan lagu-lagu terbaiknya legenda dangdut Indonesia, Ida Laila. Aku dan reporterku terlibat obrolan asyik sepanjang jalan tentang lagu-lagu itu. Mulai dari instrumen yang dipakai sampai membicarakan kata perkata dari beberapa syair lagunya.

Para pencipta lagu, beberapa dengan sangat cerdas mampu menciptakan ungkapan-ungkapan yang kemudian sangat populer ditengah masyarakat. Ungkapan-ungkapan yang mampu menjelaskan situasi sosial yang kompleks secara ringkas, mampu menginspirasi orang untuk melakukan apa yang tertulis dalam ungkapan singkat tersebut. “Sepiring berdua” adalah salah satu contohnya. Meski awalnya aku menduga dua kata ini adalah ungkapan harfiah dari “hanya sanggup makan sepiring berdua” namun pada perkembangannya ditengah masyarakat, ungkapan “sepiring berdua” mampu menjelaskan sebuah situasi penderitaan yang mungkin bisa makan waktu semalaman untuk menceritakanya. Kalau anda merasa hidup sangat menderita dengan istri, maka cukup katakan kepada teman curhat anda bahwa hidup anda cuma bisa “ sepiring berdua” maka sahabat anda akan segera mengetahui situasi yang anda hadapi tanpa harus mendengarkan cerita anda semalam penuh. Luar biasa bukan?

Contoh lain adalah ungkapan “teman tetapi mesra” atau TTM, sebuah judul lagu yang sangat populer yang dinyanyikan oleh kelompok volak Ratu. Ratu berhasil menciptakan ungkapan baru yang bisa mendeskripsikan sebuah situasi atau perilaku dua individu berbeda jenis yang melakukan sebuah hubungan yang para pelakunya sendiri mungin tidak bisa mendeskripsikan perilaku mereka sebagaia apa, perilaku yang membingungkan. Pacar bukan tetapi kok mesra, begitu kira-kira situasinya. Segera setelah ungkapan ini beredar, masyarakat segera mendapatkan sebuah pemahaman dan deskripsi baru akan sebuah perilaku yang mungkin sedang trend. Lebih hebat lagi ungkapan itu juga mampu meginspirasi orang-orang untuk melakukan perilaku “teman tetapi mesra” setelah mereka mengetahui deskripsi situasi itu dan menyadari bahwa situasi “teman tetapi mesra” memang ada. Pada perkembangan berikutnya ungkapan “teman tetapi mesra” kemudian menjadi semacam legitimasi atas perilaku itu dan selanjutnya perilaku itu bisa diterima oleh sebagian masyarakat.

“Oermar Bakri” lagu yang dinyanyikan Iwan Fals juga dengan gemilangnya mampu mendeskripsikan nasib guru-guru di negeri ini. Ia menjelaskan berbagai persoalan yang menimpa para guru dengan ringkas dan sederhana dengan cara mempersonifikasikan seorang guru lewat sosok khayal bernama Oemar Bakri. Nama Oemar Bakri selanjutnya menjadi ikon nasib guru. Lebih dahsyat lagi kemudian orang-orang yang berprofesi ini mengidentifikasikan dirinya sebagai Oemar Bakri. Nama Oemar Bakri kemudian dijadikan salah satu alat perjuangan mereka dalam menuntut perbaikan nasibnya dengan tidak lupa mereka menyanyikan lagu ini dalam demonstrasi-demostrasinya. Jadi kalau anda hendak membicarakan nasib guru-guru cukup katakan “Oemar Bakri”. Dari anak kecil sampai presiden akan dengan segera memahami maksud apa yang akan anda sampaikan.

Beberapa pencipta lagu sangat cerdas dalam merekam dinamika perilaku individu atau masyarakat. Mereka mampu menciptakan istilah-istilah baru yang mampu menjelaskan situasi sosial, mempengaruhi situasi sosial dan bahkan menciptakan situasi sosial yang baru.

Apakah anda punya contoh lain?

Rumahkancil, jogja 9 jan 2009

30
Jan
09

Survival of the Fittest

Di jalan raya Tanjung Barat selepas pom bensin arah ke Pasar Minggu ada seorang lelaki yang berprofesi sebagai “penyeberang orang”. Ia mengutip bayaran seikhlasnya untuk jasanya menyeberangkan orang di jalanan yang sangat padat dan sibuk. Ada kotak yang tersedia dimulut gang yang bertuliskan “kotak amal penyeberangan”. Ada yang memberi uang, banyak yang hanya memberi ucapan terima kasih. Kondisi lalu lintas di daerah itu memang tidak memberikan kemudahan bagi siapapun untuk menyeberang. Motor yang berjalan seperti kesetanan setelah lepas dari kemacetan di Lenteng Agung, jelas sangat berbahaya bagi yang tidak “profesional”. Peluang inilah yang ditangkap oleh pria berusia 40-an tahun itu. Bermodalkan peluit dan papan bertuliskan “stop” ia menyeberangkan orang, memotong laju kendaraan dan bertaruh nyawa.

Bertahun-tahun di Jakarta, karena pekerjaanku aku punya kesempatan bolak-balik memasuki kolong-kolong jembatan sampai istana presiden, aku melihat banyak profesi dan ragam kehidupan manusia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Banyak profesi yang tidak dikenal sebelumnya yang muncul atas desakan mempertahankan kehidupan. Menyeberangkan orang di jalan raya, menjadi penjaga pintu lift yang bertugas memencet tombol penunjuk lantai, memungut sisa-sisa beras di pasar beras Cipinang, menjadi penyapu sampah di KRL sambil sesekali memakan sampah itu untuk memaksa penumpang memberi uang dan sebagainya. Tinggal di rumah-rumah kardus di tengah-tengah lintasan rel di Pasar Senen, menghuni kolong-kolong jalan layang, hidup diatas gerobak. Hidup dalam rumah dengan pengaturan shift layaknya orang bekerja juga pernah kulihat. Rumah yang sangat sempit memaksa anggota keluarganya mengatur shift waktu tidur.

Ragam profesi dan kehidupan itu adalah mekanisme survival of the fittest. Istilah yang dikemukakan oleh Herbert Spencer yang diadopsi oleh Charles Darwin untuk teori evolusinya. Yang kuatlah yang akan bertahan, begitu kira-kira artinya.

Jakarta menjanjikan kehidupan bagi siapapun yang mau hidup di dalamnya. Bertemunya berbagai macam bentuk kehidupan ditambah semrawutnya kota ini memungkinkan orang-orang mengkreasi berbagai profesi. Tidak ada yang melarang anda hendak jadi apa dan tinggal dimana. Tidak ada batas disini. Anda bisa hidup asal tidak malu. Jakarta memberi kesempatan bagi siapapun untuk menerapkan teori seleksi alam itu. Jakarta memberi kesempatan untuk menguji batas anda sebagai manusia.

Jakarta betapapun tidak manusiawinya tetaplah sebuah kota yang menjanjikan. Kota yang mampu mewujudkan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Sesuatu yang tidak pernah anda pikirkan sejak pertama kali mengangkat koper dan memutuskan pergi ke kota ini.

Cobalah…

Rumahkancil, 7 januari 2009




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.