06
Oct
09

Cerita Dari Atas Kursi 12A

Untuk urusan arus balik lebaran kali ini aku mempercayakan sepenuhnya pada kereta Cirebon Express yang sekarang sudah melayani rute ke Brebes dan Tegal. Seminggu sebelum keberangkatan tiket sudah kupesan. Sebuah tiket kelas eksekutif dengan nomor kursi 12A gerbong 2, keberangkatan dari Brebes jam 13.30.

Pada hari keberangkatan tepat dipenghujung bulan september, cerita bemula dari kereta yang terlambat selama satu jam. Sebuah cerita lama yang membuat sepotong syair lagu Iwan Fals tetap relevan. Tidak ada permintaan maaf dari sang petugas yang mengumumkan perilah keterlambatan itu. penumpangpun tampak acuh. Sebuah apatisme massal telah muncul terhadap layanan umum di indonesia. Masyarakat sudah apatis terhadap kualitas layanan umum. Apatisme massal muncul karena masyarakat sudah jenuh dan tidak tahu harus melakukan apa untuk sekedar mencari tahu apalagi untuk mencoba komplain dan menuntut kualitas layanan umum.

Sekitar jam 14.30 kereta datang. Penumpang segera menghambur menghampiri nomor gerbong yang sesuai dengan yang tertulis di karcis. Kebingungan muncul di wajah para penumpang karena nomor gerbong berbeda. Ada nomor lama dan nomor baru yang berbeda angkanya. Pada satu gerbong misalnya tertulis nomor 1 yang kelihatanya cetakan lama dan nomor 2 yang sepertinya tempelan baru. Para penumpang saling bertanya dan saling meyakinkan. Sangat menggelikan.

Memasuki gerbong aku segera mendapatkan kursi 12A yang tidak jauh dari pintu masuk. Ini dia kursi kelas eksekutif itu! sebuah kursi yang menempel jendela. Ah beruntung, duduk di kursi dekat jendela adalah kesukaanku bila pergi naik bis, kereta atau pesawat. Lebih beruntung lagi kalau siapa tahu teman seperjalananku gadis cantik. Lima menit berikutnya tiga orang masuk, seorang nenek dengan cucunya yang masih bayi dan laki-laki dan perempuan muda yang pastinya orang tua sang bayi. Mereka bertiga duduk disebelahku. Pupus sudah harapanku. Untuk urusan ini memang aku tidak pernah beruntungJ sambil menunggu keberangkatan, keluarga itu membuka bunkusan makan siang. Aromanya fuih… aku yang tidak terbiasa makan di kendaraan langsung mual. Mereka tampak lahap. Dan alamak selesai makan ayah si bayi cuci tangan di depan kursiku yang ia pakai karena masih kosong. Basahlah lantai gerbong. Wibawa kursi kelas eksekutif mulai luntur!

Kereta berjalan. Stasiun demi stasiun kecil di Brebes lewat. Aku mengamati kursi disebelahku, penumpang sebelahku tampak kesal karena stepfoot berikut tempat menaruh koran dikursinya sudah tidak ada. Koyak moyak entah kenapa. Tidak terbayang kaki ukuran sebesar apa yang sanggup mematahkan stepfoot sekuat itu. Aku mencoba menginjak keras-keras stepfoot dikursiku untuk mencoba seberapa kuat konstruksinya. Lebih aneh lagi kenapa PJKA tidak mau membetulkan hal sederhana yang berpengaruh pada mutu layanan kursi kelas eksekutif itu.

Kereta masih sepi saat memasuki cirebon. Kulihat si nenek tertidur pulas bersama bayinya. Dan alamak… ia mengangkat kakinya dan menaruhnya di sandaran tangan kursi didepannya. Sebuah pemandangan yang sangat tidak sedap. Kalau ia sedang main bola pastilah sudah kena sangsi wasit karena mengangkat kaki terlalu tinggiJ. sementara si lelaki, sang menantu terlentang tidur dikursi didepannya yang belum terisi penumpang. Sang perempuan, ibu si bayi tertidur disampingku dengan melipat kakinya keatas kursi. Seolah disampingnya adalah hanya seonggok patung lelaki yang sedang termangu. Demikianlah… ruang publik secara psikologis sanggup menelan identitas personal seseorang. Beberapa orang biasanya secara tidak sadar kehilangan identitas pribadinya. Yang muncul adalah perilaku massal. Keluarga itu kehilangan identitas personalnya ditelan gerbong kereta.

Di sebuah stasiun di wilayah Cirebon kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Serombongan orang naik tampaknya sebuah keluarga dengan dua anak kecil dan beberapa kardus serta koper yang merepotkan. Ia mondar-mandir mencari kursi bernomor 14! Padahal di gerbong itu nomor kursi hanya sampai 13! Ia bertanya kesana kemari sambil selalu memastikan tulisan yang tercetak di kacisnya. Penumpang lain ikut kebingungan. Akhirnya mereka bergerak kebelakang setelah bolak-balik tidak juga menemukan kursi yang dimaksud. Sejak itu aku tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Seorang lelaki membentak istrinya yang sedari tadi kebingungan mencari pintu toilet yang terisi air. Rupanya tidak semua toliet terisi air. Bentakan yang membangunkan penumpang lain yang sedang tidur. Hmm… kalau ditempat umum saja sang suami masih sanggup membentak istrinya bagaimana kalau ditempat tidur ya?

Toilet adalah hal paling tidak penting di negeri ini. Aku yang mengidap stres lingkungan sampai sekarang tidak pernah berani berurusan dengan toilet umum atau toilet yang belum kukenal kecuali sangat terpaksa. Panggilan alam sepanjang perjalanan itu terpaksa aku abaikanL

Memasuki stasiun besar Cirebon, penumpang bertambah ramai, kursi terisi semua. Kereta berhenti sekitar 15 menit. Lewat pengeras suara, petugas meminta maaf atas keterlambatan kereta. Sebuah layanan yang tidak standar antar stasiun. Dari balik jendela aku melihat para pengantar tampak tidak mau melepaskan pandangannya dengan orang-orang tercintanya yang sudah berada diatas kereta. Bahkan saat kereta itu mulai berjalan, para pengantar ikut berjalan seolah tidak mau melepaskan pandangannya. Cinta memang indah dan mempesona.

Selepas Cirebon kereta, melaju dengan dominasi pemandangan sawah-sawah kering kerontang terpanggang matahari kemarau. Memasuki sebuah perrkampungan sekelompok anak dengan iseng melempar kereta dengan batu. Sebuah cerita lama yang tidak pernah selesai. Seorang pramugari bolak-balik menawarkan pesanan minuman dan makanan. Sampai di kursi no. 13 tepat didepanku ia menawari dua penumpang apakah akan memesan minuman atau tidak. Seorang penumpang menjawab, “ Saya ingin memesan teh tapi mau ditaruh dimana, di kursi ini tidak ada tempat menaruh gelas”. Sesaat sang pramugari melirik ke arah jendela dan benar saja di kursi itu tidak ada tempat menaruh gelas sebagaimana kursi lainya. Sang pramugari cantik yang tampak kelelahan hanya tersenyum malu sambil memberi saran sekenanya “ Gelasnya bisa bapak pegang kok”. Penumpang menjawab sambil bercanda. “Sejauh itu saya harus memegangi gelas panas?”

Percakapan terhenti begitu saja tanpa ada pesanan minuman seperti yang diharapkan pramugari itu. Setelah itu dua penumpang di depanku kembali asik mengobrol soal politik. Ah apakah mereka tidak jemu ya dengan politik di Indonesia yang begitu membosankan dan penuh akrobat konyol.

Kereta terus melaju mengikuti lompatan waktu. Terang kemudian berangsur gelap. Lampu kabin menyala, aku mencoba menghidupkan lampu diatas tempat dudukku yang dua-duanya ternyata tidak menyala!

Ah bangsa ini baru sekadar bisa mengartikan kata kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif hanya menjadi deretan tarif yang berbeda, tapi belum bisa secara maksimal menerjemahkan ketiga kata itu dalam layanan sebagaimana mestinya. Rasanya kalau hanya mengandalkan perubahan mental secara alami perlu waktu seratus tahun kalau tanpa langkah-langkah revolusioner…

06
Oct
09

Cerita Dari Atas Roda

Depok, jam 5 pagi.

Untuk sebuah tradisi, tepat pada hari ke 28 Ramadhan aku memacu sepeda motorku menuju kampung halaman. Sudah dua kali aku pulang kampung dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah perjuangan yang tidak mudah setelah setiap tahun selalu mendapati kesulitan mendapatkan angkutan umum bus maupun kereta. Setiap kali mendatangi stasiun maupun terminal bus aku selalu merasa terhina dengan situasi yang ada. Bagaimana mungkin untuk mendapatkan sebuah tempat dalam bus maupun kereta harus berebut saling sikut, kadang malah ada yang memecahkan kaca untuk bisa masuk. Begitu selalu berulang setiap tahun. Belum lagi perlakuan para awak bus, calo maupun kenek yang menggunakan kesemptan itu untuk memeras penumpang. Seolah tidak ada lagi jejak ibadah puasa yang katanya mengajarkan kebaikan, kesabaran, toleransi. Manusia terlihat begitu buas.

Karawang, jam 10 pagi yang menyengat.

Kemacetan yang mengular membuat perjalanan terhambat beberapa jam. Sejauh mata memandang hanya terlihat puluhan ribu kepala tertutup helm. Udara sangat panas. Niatku untuk berpuasa pupus sudah, tidak sanggup menahan haus. Di sebuah rumah dengan warung yang agak lapang aku berhenti beristirahat, memesan minum, beberapa detik  kemudian batallah puasaku. Tepat di depan rumah tersebut ada sebuah kios bensin. Beberapa orang membeli karena memang sepanjang jalur itu hanya ada dua pom bensin yang jaraknya berjauhan dan karena kemacetan yang sangat parah membuat konsumsi bensin sangat boros. Beberapa motor mulai kehabisan bahan bakar. Beberapa pembeli bensin tampak sangat kecewa karena harga bensin melonjak dua kali lipat menjadi sepuluh ribu untuk satu liternya. Apa boleh buat. Ada yang memaklumi ada juga yang menggerutu. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa yang mengajarkan pelayanan. Bagi para pedagang di sepanjang karawang dan sebagian dari kita, hidup adalah uang. Kita kadang  mengeruk keuntungan berlipat dengan memanfaatkan kesempatan yang tersedia tanpa perlu berhitung dengan etika. Lagi-lagi aku menemukan sisi buas manusia.

Subang, jam 12 siang.

Setelah lepas dari kemacetan di Karawang kini aku memasuki daerah Subang dengan tersendat di beberapa ruas. Pada pom bensin pertama yang kutemui aku langsung berhenti untuk mengisi bensin. Aku memaksakan diri tidak mengisi di kios bensin itu karena tidak sudi menjadi korban kebuasan para pedagang itu. Rupanya soal mengisi bensin juga bukan perkara mudah, aku memerlukan satu jam untuk urusan itu. Orang-orang saling memaki karena beberapa tidak sudi mengantri dan menyerobot. Lagi-lagi tidak tampak jejak ibadah puasa disini, tidak ada toleransi seperti yang diajarkan puasa. Semuanya mau menang sendiri tanpa peduli dengan yang lain, saling berebut tempat yang bukan haknya dengan jalan pintas. Persisi perilaku korupsi.  Manusia terlihat begitu egois.

Subang, penggal terakhir jam 2 siang yang menyengat.

Dibawah sengatan matahari pantura yang buas, sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang kinclong dan sebuah sepeda motor bebek dengan tiga penumpang: seorang lelaki, seorang wanita dan bocah balita berusia sekitar dua tahun. Mobil dan sepeda itu tepat berada disisiku yang merayap sangat pelan karena macet menjelang perempatan di sebuah pasar. Tepat saat mobil  dan sepeda motor berpenumpang tiga orang itu beriringan, sopir menengok ke kiri dan melihat sepeda motor itu. Ia kemudian mencolek penumpang perempuan disisinya sambil menunjuk sepeda motor itu. Perempuan itu menoleh sebentar kemudian kembali menekuni bacaannya. Tidak bereaksi. Aku melhat sang sopir yang mungkin suaminya berbicara entah apa, mungkin sedang membicarakan tiga penumpang sepeda motor itu. Mungkin sedang menyalahkan keluaraga itu karena membawa seorang bayi mudik dengan sepeda motor. Ada seribu alasan yang membuat keluarga itu mudik dengan mengunakan sepeda motor seraya membawa seorang balita. Kondisi yang mengancam keselamatan sang bayi. Tidak perlu memperbincangkan kenapa keluarga itu tetap nekat menerabas imbauan pemerintah untuk tidak membawa anak kecil di sepeda motor. Aku membayangkan sebuah solidaritas spontan yang muncul dari penumpang mobil  itu. Solidaritas untuk menawarkan sebuah ruang dalam mobil itu untuk ibu dan bayi yang terlihat kepayahan tersengat matahari, debu dan asap panas ribuan kendaraan. Mobil itu hanya berpenumpang dua orang, masih ada ruang kosong yang sejuk dibelakang.

Ruang (fisik maupun non fisik) adalah unsur penting solidaritas. Tidak ada solidaritas tanpa menyertakan ruang. Pada musim mudik kali ini aku masih melihat sepeda motor yang juga mengangkut anak kecil dan bayi. Jumlahnya sudah jauh berkurang. Perkiraanku hanya satu diantara seratusan motor. Pada saat yang sama juga aku melihat masih banyak ruang-ruang kosong yang sejuk dalam mobil-mobil mewah. Kalau saja puasa yang mengajarkan solidaritas benar-benar terinternalisasi pada setiap individu yang menjalaninya, tidak ada cerita seperti di atas. Akan muncul solidaritas-solidaritas spontan. Solidaritas untuk menawarkan ruang dan membaginya untuk anak-anak kecil yang kepayahan menyabung nyawa. Puasa yang datang sepanjang hidup kita belum juga mampu mengajarkan solidaritas yang spontan. Sebuah solidaritas yang sudah terinternalisasi, memasuki alam bawah sadar kita dan menjadikan solidaritas begitu tulus, asli dan indah.  Sayangnya kita masih memahami solidaritas sebatas kotak amal di masjid.

Indramayu, jam 15.30

Memasuki penggal pertama kota Indramayu aku berhenti di sebuah masjid untuk beristirahat sekaligus sholat ashar dan dzuhur yang digabung. Ada seratusan orang yang tengah beristirahat dan sholat. Aku duduk di sudut masjid sesuai sholat. Melamun dan menghitung kembali  serta membandingkan berapa yang aku berikan pada yang membutuhkan dan berapa yang aku konsumsi sendiri selama bulan puasa.  Aku mengkonsumsi lebih banyak ketimbang yang aku berikan pada yang membutuhkan. Bulan puasa selalu tampak seperti sebuah bulan pesta pora dengan bungkus ibadah. Kita mengkonsumsi apapun lebih banyak dari biasanya. Perilaku ini membuat semua komoditas mengalami kenaikan harga yang ujung-ujungnya yang miskin juga yang sengsara. Kita memang memberi tapi terlalu sedikit tidak sebanding dengan akibat dari pola konsumsi yang membuat si miskin semakin terjepit. Puasa katanya mengajarkan agar kita ikut merasakan penderitaan orang miskin yang selalu merasa kekurangan. Seharusnya dibulan ini kita mengkonsumsi lebih sedikit dan memberikan lebih banyak agar kita benar-benar merasakan bagaimana hidup dalam keterbatasan. Sayangnya budaya telah membalik keadan itu. Kita hanya memberi sebatas beramal tanpa benar-benar berkehendak merasakan kekurangan dan penderitaan yang sebenarnya seraya memanjakan saudara-saudara kita yang miskin. Kali ini aku tidak melihat jejak puasa dalam diriku. Aku malu.

Kedawung, jam 7 pagi yang sangat dingin di kaki gunung Slamet.

Ini adalah shalat idul fitri yang sekian belas kali dalam hidupku sejak aku mulai ikut shalat. Seorang khatib menjelaskan tentang pelajaran puasa bagi manusia. Ia berkata alangkah beruntungnya manusia yang dibulan puasa melakukan ibadah, berbuat kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah, melakukan amal sholeh dengan lebih peduli pada anak-anak yatim dan orang miskin. Sebaliknya, katanya alangkah hinanya manusia yang pada bulan ini abai pada anak yatim dan orang miskin.

Kalimat “alangkah hinanya” membuat aku malu untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang memperoleh kemenangan setelah sebulan puasa dengan sehari bolong gara-gara mudik atau tidak. Aku hanya merasa seperti seorang yang pulang pagi dan kelelahan setelah berpesta pora semalam penuh.

Sesaat kemudian puluhan SMS ucapan selamat idul fitri masuk dalam ponselku. Aku semakin malu.

23
Jul
09

Applaus untuk Kangen Band

imagesAku secara tidak sengaja melihat Kangen Band sedang manggung disebuah stasiun tv. Kulihat mereka sedang memainkan lagu yang berjudul (mungkin) Yolanda. Band kacrut ini (menurut istilah sebuah majalah remaja) seperti membius penonton yang bisa jadi akan mereka istilahkan juga sebagai golongan kacrut. Band ini menuai banyak kontroversi. Banyak yang menghujatnya tetapi banyak juga yang memujinya. Hujatan karena menurut para penghujat band ini telah merusak dan mencemari apa yang namanya musik. Lirik-lirik lagu, aransemen, tampang, sejarah dan penampilan band ini mereka anggap sama sekali tidak mewakili arus utama musik dan dunia keartisan Indonesia. Mereka telah berbuat dosa terhadap musik. Bahkan pernah beredar fatwa mati buat anggota band ini disebuah milis. Bagi yang memuji, inilah hasil sebuah etos kerja keras. Para personel band ini datang dari lingkungan marjinal. Ada yang berayah tukang becak, ada yang berprofesi penjual sandal keliling, penjual cendol. Nasib mempertemukan mereka dengan produser dan mulailah mereka menjadi selebritis. Mereka sukses.

Aku tidak menyukai musik-musik Kangen Band tetapi aku tidak akan ikut menghujat mereka hanya karena tidak menyukai musiknya. Aku lebih suka mengapresiasi apa yang telah mereka raih. Anak-anak muda ini telah menemukan jalan yang secara tidak sadar sedang mereka cari lewat perjuangan hidup mereka saat mereka belum merilis album. Mereka muncul dari kalangan tidak berpunya. Musik pastinya bukan cita-cita mereka, apalagi menjadi selebritis. Anak-anak muda ini hanya sekedar bertahan hidup sambil sesekali berkumpul untuk nge-band. Nasib kemudian berpihak kepadanya, sesuatu yang lazim bagi siapapun yang telah bekerja keras. Pasar kemudian merespon album mereka dengan baik. Tampang, lirik-lirik lagu, latar belakang nasib mereka begitu wewakili keseharian anak muda di Indonesia. Mereka membawakan lagu-lagu yang terkesan lugu dan kampungan tetapi justru syair-syair lagu itu yang dekat dengan keseharian jutaan anak muda disini. Mereka menjadi tidak berjarak dengan kehidupan riil masyarakat. Aku juga suka mereka merekrut penyanyi wanita yang sama sekali tidak bertampang artis. Sederhanan dan memakai kerudung. Mereka tetap orang kampung yang mungkin tidak betah dengan orang kota. Bisa jadi mereka memang sengaja memberikan kesempatan orang-orang yang terpingirkan arus utama. Mereka tidak lantas latah dengan ketenaranya, masuk arus utama dunia selebritis di Indonesia. Lebih dari itu kesuksesan mereka mengispirasi anak-anak muda yang jauh dari fasilitas, tampang dan modal kapital. Dengan kerja keras, nasib akan memihak.

Ketidaksukaan individu-individu pada group band ini juga sebenarnya adalah fenomena umum segelintir masyarakat yang merasa paling tahu akan segala hal. Orang-orang yang tidak suka merasa mereka adalah penentu standar kualitas musik dan tampang artis. Sama seperti pengambil kebijakan di pemerintahan yang selalu mempertahankan pembangunan ekonomi berdasarkan kapital besar, pasar uang, bank dan saham. Mereka tidak mau memahami meskipun tahu bahwa ketahanan ekonomi bangsa ini terletak di pedesaan dan usaha kecil menengah. Pergerakan usaha pedesaan ini yang paling kebal krisis tetapi selalu dianak tirikan, mendapat kucuran sisa-sisa kredit perbankan. Membiarkan mereka bertarung sendiran, tidak memberikan fasilitas apalagi proteksi. Mereka mengakui eksistensi usaha kecil ini seraya terus menerus mengingkarinya. Para pengambil keputusan ini cuma segelintir manusia picik yang takut kehilangan muka, uang, gengsi ditengah arus modernitas bangsa ini yang konyol.

Kembali ke Kangen Band…. Para pengkritik ini sebenarnya adalah sekumpulan orang-orang picik yang lahir lewat fasilitas kapital. Mereka merasa memiliki otoritas atas sekumpulan anak kampung yang beruntung itu. Mereka merasa memiliki otoritas untuk menentukan warna pasar musik, siapa yang boleh masuk dan berkarya. Mereka sekumpulan orang yang tidak bisa memaknai arti kerja keras. Mereka orang-orang yang lebih menyukai cara-cara pintas menjadi terkenal, lebih percaya pada pencarian bakat lewat kontes mimpi. Mereka orang yang mengangap dirinya raja yang merasa singgasana mereka tercemar oleh kedatangan anak-anak kampung itu.

Kemarin saat jalan-jalan di Detos, aku lihat vokalis band ini nampang dengan vokalis-vokalis band terkenal lainnya sedang menjajakan sebuah produk. Ia sudah jadi bintang iklan, berderet dengan selebritis “beneran” lainnya. Ah aku suka melihat fotonya… gambaran cerita moral nenek moyang: miskin, kerja keras, bermimpi lalu Tuhan akan mewujudkan mimpimu pada saat yang tepat.

rumahkancil, juli 2009

25
Mar
09

tuhhhhh…bule aja doyan

Ingimages2et kan iklan sebuah produk kopi yang diperankan oleh Luna Maya yang sedang melayani bule itu? iklan ini dugaanku (sotoyku kumat) mencoba mengusik rasa rendah diri sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat kita selalu menjadikan dunia barat sebagai tolak ukur sampai-sampai soal rasapun dalam iklan itu harus mengacu lidah si bule tadi. Menurutku menjadikan dunia barat sebagai acuan tentu sah-sah saja, apalagi dalam hal kemajuan teknologi. Hanya saja ukuran-ukuran tersebut jangan lantas menjadikan kita rendah diri: kalau bule pasti oke. Dan aku menduga kopi itu laris manis.

Mentalitas inlander kita setelah lebih dari 60 tahun merdeka rupanya tidak juga beranjak menjauh. Dari rakyat kecil sampai pemimpin semua bermental inlander. Mudah didikte oleh bangsa asing, pejabat kita bangga mendapat kepercayaan donor asing, lebih suka produk impor. Pendeknya merendahkan diri sendiri dan kemampuan sendiri.

Ayo…lawan mentalitas inlander bangsa ini, jangan malu menjadi diri sendiri, jangan mau seperti Luna Maya… jadilah Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan Syahrir.

25
Mar
09

Maha Guru Kehidupan

Untuk pembuatan dua film dokumenter, bulan ini aku merekam kehidupan dua orang hebat. Dia bukan politikus, ilmuwan, pejabat, orang kaya atau orang alim. Dua orang ini lelaki lugu lagi miskin, Badri Ismaya dan Rudi MS. Kedua pria ini tinggal di kawasan Puncak, Bogor.

Badri Ismaya adalah seorang lelaki yang mendedikasikan hidupnya sebagai penanam pohon. Ia mulai melakukan aktifitas ini sejak tahun 1975 sebagai bentuk pertobatanya sebagai pembalak liar sebelumnya. Ia tersadarkan saat beristirahat sesaat setelah menebang pohon. Setetes air menetes kewajahnya dan ia merasakan kesejukan yang luar biasa. Dari situlah ia bertobat dan menebus dosanya dengan menanam pohon.

Kalau anda melewati kawasan Puncak, sebagian pohon yang dapat anda lihat adalah hasil tanamannya. Ia menanam dimanapun ada tanah kosong dan lahan-lahan kritis di kawasan Puncak. Tidak peduli panas dan hujan setiap hari ia akan menanam. Dalam kondisi sakitpun ia akan menanam seperti yang aku rekam saat itu. Dalam sehari ia sanggup menanam seratus sampai lima ratus pohon. Semua biaya operasional ia tanggung sendiri, mulai transportasi dan bibit. Sesekali ia mendapat bantuan dari pemerintah atau organisasi lain. Selama puluhan tahun ia berjuang sendirian, tidak satupun yang sanggup mengikuti jejak komitmenya pada lingkungan. Beberapa waktu terakhir ini ia mendapat bantuan seorang anak laki-lakinya dan dua anak muda tetangganya yang menurutnya masih diuji komitmennya. Ia menghidupi keluarganya dari bertanam jamur. Tidak sesenpun ia mau menerima uang bila ada proyek penanaman seperti saat aku menemuinya. Proyek penanaman sejuta pohon di puncak dibebankan padanya. Ia tidak mau menerima uang, ia hanya mau menerima bibit yang kemudian akan ditanamnya.

Untuk meyakinkan apa fungsi pohon yang sesungguhnya, selama setahun ia melakukan eksperimen untuk mengetahui berapa jumlah air yang mampu diserap oleh tanah yang diatasnya terdapat sebatang pohon. Dalam eksperimennya ia menghitung curah hujan dan lama hujan dalam setahun di kawasan puncak, lalu menampung air hujan itu selama musim hujan dari air yang mengalir melalui batang pohon dan tutupan kanopinya. Dari eksperimennya pada sebuah pohon alpukat yang memiliki kanopi kira-kira limapuluh meter persegi, dalam setahun ia berkesimpulan ada sembilan juta liter air yang mampu ditahan oleh akarnya dalam tanah. Ia mengaku penelitian ini telah divalidasi oleh seorang mahasiswa S3 IPB yang melakukan penelitian yang sama. Dari situ ia semakin meyakini apa yang dilakukanya sangat bermanfaat.

Rudi MS adalah seorang tunadaksa yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajar anak-anak buruh pemetik teh yang sangat miskin di desa Cikoneng, Puncak. Ia harus berjalan dengan dibantu tongkat. Kaki kanannya tidak berfungsi lagi karena sebuah kecelakaan pada masa mudanya. Ia memulai aktivitasnya sejak tahun 1982 saat ia menjelajah kawasan ini dan menemukan anak-anak yang tidak bersekolah. Ia lalu bertekad membagikan ilmu baca tulis yang ia miliki pada anak-anak itu. Ia mendirikan sekolah non formal disebuah bedeng penimbangan teh sampai tahun 1987. Pada tahun itu pemerintah memformalkan sekolah itu menjadi sebuah SD Negeri. Saat ini sebuah bangunan yang cukup layak sudah berdiri ditengah perkampungan kebuh teh itu. Ia dibantu oleh beberapa guru. Semua guru sudah berstatus PNS, namun ia sendiri masih bersatus honorer. Sungguh ironis. Ia sebagai pendiri dan telah mendedikasikan hidupnya tidak mendapat perhatian selayaknya dari pemerintah. Untuk menghidupi keluarganya ia membuka warung di depan rumahnya, melayani anak-anak didiknya yang sangat miskin, setiap akhir pekan ia akan turun dari kampungya dan menjadi tukang parkir atau menjaga WC di kawasan wisata Puncak.

Aku merekam semangat dan ketulusan yang sama dari dua maha guru kehidupan ini. Mereka orang-orang yang telah mengorbankan diri dan hidupnya demi orang lain. Mereka orang-orang yang sudah mampu membuang ego dan melupakan dirinya. Mereka orang-orang yang tidak berkehendak dipahami. Mereka orang-orang yang telah mampu memahami lingkungan dan orang lain. Badri Ismaya misalnya, ia mengaku tidak tega melihat bumi merana tanpa pohon, ia selalu khawatir dengan ketersediaan air dalam tanah. Rudi tidak tega meninggalkan anak-anak buruh itu tanpa kemampuan baca tulis. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari yang mereka lakukan. Mereka tetap miskin, kadang dicaci, dianggap bodoh dan tidak rasional. Memang bukan materi atau tujuan-tujuan popularitas yang mereka inginkan. Mereka mengaku bahwa mereka harus mengambil tanggung jawab atas persoalan yang mereka geluti. Memastikan ada pohon yang masih tumbuh dan memastikan anak-anak itu bisa membaca dan menulis. Dari semua yang mereka lakukan, mereka mendapatkan kepuasan batin. Itulah kenapa Badri tidak mengijinkan aku merekam hadiah kalpataru yang ia terima. Ia mengaku bukan kalpataru yang ia inginkan tetapi kesadaran masyarakat akan lingkungan. Ia mengaku malu dengan hadiah itu karena ia merasa belum melakukan apa-apa. Ia menyimpan rapat hadiah itu dalam lemari bajunya. Rudi tidak mempermasalahkan statusnya yang hanya pegawai honorer kendati dialah yang justru membuka jalan bagi guru-guru lain menjadi PNS. Ia puas kalau anak-anak buruh itu bisa membaca dan menulis. Ia puas telah membuat jembatan bagi anak-anak itu untuk keluar dari kemiskinan kendati untuk itu ia malah terjebak menjadi miskin dan kehilangan kesempatan yang mungkin lebih baik.

Badri Ismaya, bertahun-tahun menjaga dan memastikan tetap ada tetes air yang mengalir dalam tenggorokan kita. Rudi MS dalam kecacatanya berusaha memastikan negeri ini tidak lekas roboh karena kebodohan.

Mereka orang-orang yang mampu melupakan dirinya, sekaligus sanggup mengukir namanya diatas langit. Jauh dari keriuhan ego manusia, menyatu dengan nama Tuhan yang Agung.

Ah..aku malu meneruskan menuliskan tentang kisah mereka yang begitu agung. Aku, sejauh hidupku hanya sanggup memikirkan diriku sendiri.

rumahkancil, maret 2009

23
Mar
09

Rumah Sakit Muhammadiyah Moga, Sebuah Oase

“Berapa uang mukanya kemarin?”, Aku bertanya pada ibuku saat kami menunggui ayahku yang sedang dirawat di rumah sakit.
“Disini ndak pakai uang muka, semua pembayaran juga dilakukan setelah pasien hendak meninggalkan rumah sakit”. Ibuku menjawab. Aku terheran.
Selama seminggu ayahku dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah, Moga Pemalang. Rumah sakit kecil ini jadi pilihan karena ia terdekat dari rumah sekitar sepuluh kilometer dengan udara yang sejuk, jadi tidak menyusahkan ayahku yang seumur hidupnya tinggal di daerah sejuk. Selain itu memudahkan mobilitas keluarga yang menunggui.
Rumah Sakit Muhammadiyah Moga atau lebih dikenal sebagai rumah sakit Simadu ini menjadi andalan masyarakat sekitar Tegal bagian selatan timur dan Pemalang bagian barat, karena ia satu-satunya rumah sakit di daerah itu. Rumah sakit ini konon kata ayahku berdiri tahun 60-an dari sebuah puskesmas. Pada tahun 80-an rumah sakit ini begitu vital. Pada masa itu tenaga medis yang tersedia baru mantri kesehatan yang jumlahnya terbatas, salah satunya adalah ayahku. Puskesmaspun belum maksimal berfungsi. Pasien-pasien yang tidak mampu tertangani mantri biasanya langsung dirujuk ke rumah sakit ini.
Setelah puluhan tahun rumah sakit ini tidak banyak berubah. Hanya kulihat ada bangunan baru dibelakang rumah sakit yang katanya untuk bangsal kelas satu. Sudah beroperasi tapi masih sepi yang membuat ayahku menolak dirawat di kamar kelas satu itu. Ia memilih kelas dua yang ramai. Fasilitas yang kulihatpun masih terbilang sederhana. Sebuah UGD, beberapa klinik, sebuah laboratorium kecil dan kamar operasi. Beberapa nama dokter terlihat dipapan depan rumah sakit ini. Hanya beberapa dokter umum, dua sampai tiga dokter spesialis yang hanya datang pada hari-hari tertentu.
Keistimewaan rumah sakit ini adalah tidak memungut uang muka untuk setiap pasien yang masuk. Semua pasien dari golongan apapun dilayani sama. Keluarga pasien akan ditanya dengan fasilitas biaya apa untuk perawatan pasien. Dengan jamkesmas, askes, atau biaya sendiri. Setelah itu pasien akan dirawat sebagaimana mestinya. Keluarga pasien juga tidak perlu menebus obat setiap hari seperti pada rumah sakit yang lain. Semua perawatan dan obat-obatan sudah disediakan. Semua penghitungan biaya baru dilakukan setelah perawatan selesai saat pasien sudah diperbolehkan pulang. Sangat mudah. Biaya perawatan bisa ditekan karena obat yang dipakai sangat efisien. Keluarga pasien tidak perlu menebus obat sendiri setiap hari yang membuat pemakaian obat kadang menjadi tidak efisien karena biasanya dokter memberikan jumlah obat yang berlebih. Secara berkala seorang alim mendatangi tiap bangsal, memberikan bimbingan rohani pada pasien dan keluarganya. Bagi keluarga pasien yang tidak mampu melunasi biayapun masih bisa berhutang. Cukup meninggalkan alamat lengkap dan niat baik.
Ditengah perubahan nilai-nilai falsafah pengobatan, rumah sakit ini tetap mampu mempertahankan nilai luhurnya. Tidak terjebak pada kapitalisasi medis seperti rumah sakit lainnya. Rumah sakit ini tetap mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak tergilas oleh tangan-tangan kapitalis yang merupiahkan setiap nyawa yang hendak digantungkannya. Rumah sakit ini masih mampu menghargai derajat kemanusiaan pasien dan keluarganya. Masih mampu memberikan harapan sekaligus angin sejuk ditengah industri kesehatan yang begitu menggila dan semakin tidak manusiawi. Belum pernah ada pasien kabur karena soal biaya. Rumah sakit sangat menghargai nyawa dan keselamatan pasien, keluarga pasien pun sangat menghargai upaya rumah sakit menyelamatkan keluarganya. Sebuah relasi kemanusiaan yang indah.

rumahkancil, maret 2009

30
Jan
09

Sepiring Berdua

Anda tentu pernah mendengar dua kata diatas. Dalam perjalanan ke Jogjakarta untuk sebuah liputan aku mendengar lagu berjudul diatas sepanjang perjalanan karena sang driver tidak menyediakan pilihan lain selain sebuah kaset yang berisi kumpulan lagu-lagu terbaiknya legenda dangdut Indonesia, Ida Laila. Aku dan reporterku terlibat obrolan asyik sepanjang jalan tentang lagu-lagu itu. Mulai dari instrumen yang dipakai sampai membicarakan kata perkata dari beberapa syair lagunya.

Para pencipta lagu, beberapa dengan sangat cerdas mampu menciptakan ungkapan-ungkapan yang kemudian sangat populer ditengah masyarakat. Ungkapan-ungkapan yang mampu menjelaskan situasi sosial yang kompleks secara ringkas, mampu menginspirasi orang untuk melakukan apa yang tertulis dalam ungkapan singkat tersebut. “Sepiring berdua” adalah salah satu contohnya. Meski awalnya aku menduga dua kata ini adalah ungkapan harfiah dari “hanya sanggup makan sepiring berdua” namun pada perkembangannya ditengah masyarakat, ungkapan “sepiring berdua” mampu menjelaskan sebuah situasi penderitaan yang mungkin bisa makan waktu semalaman untuk menceritakanya. Kalau anda merasa hidup sangat menderita dengan istri, maka cukup katakan kepada teman curhat anda bahwa hidup anda cuma bisa “ sepiring berdua” maka sahabat anda akan segera mengetahui situasi yang anda hadapi tanpa harus mendengarkan cerita anda semalam penuh. Luar biasa bukan?

Contoh lain adalah ungkapan “teman tetapi mesra” atau TTM, sebuah judul lagu yang sangat populer yang dinyanyikan oleh kelompok volak Ratu. Ratu berhasil menciptakan ungkapan baru yang bisa mendeskripsikan sebuah situasi atau perilaku dua individu berbeda jenis yang melakukan sebuah hubungan yang para pelakunya sendiri mungin tidak bisa mendeskripsikan perilaku mereka sebagaia apa, perilaku yang membingungkan. Pacar bukan tetapi kok mesra, begitu kira-kira situasinya. Segera setelah ungkapan ini beredar, masyarakat segera mendapatkan sebuah pemahaman dan deskripsi baru akan sebuah perilaku yang mungkin sedang trend. Lebih hebat lagi ungkapan itu juga mampu meginspirasi orang-orang untuk melakukan perilaku “teman tetapi mesra” setelah mereka mengetahui deskripsi situasi itu dan menyadari bahwa situasi “teman tetapi mesra” memang ada. Pada perkembangan berikutnya ungkapan “teman tetapi mesra” kemudian menjadi semacam legitimasi atas perilaku itu dan selanjutnya perilaku itu bisa diterima oleh sebagian masyarakat.

“Oermar Bakri” lagu yang dinyanyikan Iwan Fals juga dengan gemilangnya mampu mendeskripsikan nasib guru-guru di negeri ini. Ia menjelaskan berbagai persoalan yang menimpa para guru dengan ringkas dan sederhana dengan cara mempersonifikasikan seorang guru lewat sosok khayal bernama Oemar Bakri. Nama Oemar Bakri selanjutnya menjadi ikon nasib guru. Lebih dahsyat lagi kemudian orang-orang yang berprofesi ini mengidentifikasikan dirinya sebagai Oemar Bakri. Nama Oemar Bakri kemudian dijadikan salah satu alat perjuangan mereka dalam menuntut perbaikan nasibnya dengan tidak lupa mereka menyanyikan lagu ini dalam demonstrasi-demostrasinya. Jadi kalau anda hendak membicarakan nasib guru-guru cukup katakan “Oemar Bakri”. Dari anak kecil sampai presiden akan dengan segera memahami maksud apa yang akan anda sampaikan.

Beberapa pencipta lagu sangat cerdas dalam merekam dinamika perilaku individu atau masyarakat. Mereka mampu menciptakan istilah-istilah baru yang mampu menjelaskan situasi sosial, mempengaruhi situasi sosial dan bahkan menciptakan situasi sosial yang baru.

Apakah anda punya contoh lain?

Rumahkancil, jogja 9 jan 2009

30
Jan
09

Survival of the Fittest

Di jalan raya Tanjung Barat selepas pom bensin arah ke Pasar Minggu ada seorang lelaki yang berprofesi sebagai “penyeberang orang”. Ia mengutip bayaran seikhlasnya untuk jasanya menyeberangkan orang di jalanan yang sangat padat dan sibuk. Ada kotak yang tersedia dimulut gang yang bertuliskan “kotak amal penyeberangan”. Ada yang memberi uang, banyak yang hanya memberi ucapan terima kasih. Kondisi lalu lintas di daerah itu memang tidak memberikan kemudahan bagi siapapun untuk menyeberang. Motor yang berjalan seperti kesetanan setelah lepas dari kemacetan di Lenteng Agung, jelas sangat berbahaya bagi yang tidak “profesional”. Peluang inilah yang ditangkap oleh pria berusia 40-an tahun itu. Bermodalkan peluit dan papan bertuliskan “stop” ia menyeberangkan orang, memotong laju kendaraan dan bertaruh nyawa.

Bertahun-tahun di Jakarta, karena pekerjaanku aku punya kesempatan bolak-balik memasuki kolong-kolong jembatan sampai istana presiden, aku melihat banyak profesi dan ragam kehidupan manusia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Banyak profesi yang tidak dikenal sebelumnya yang muncul atas desakan mempertahankan kehidupan. Menyeberangkan orang di jalan raya, menjadi penjaga pintu lift yang bertugas memencet tombol penunjuk lantai, memungut sisa-sisa beras di pasar beras Cipinang, menjadi penyapu sampah di KRL sambil sesekali memakan sampah itu untuk memaksa penumpang memberi uang dan sebagainya. Tinggal di rumah-rumah kardus di tengah-tengah lintasan rel di Pasar Senen, menghuni kolong-kolong jalan layang, hidup diatas gerobak. Hidup dalam rumah dengan pengaturan shift layaknya orang bekerja juga pernah kulihat. Rumah yang sangat sempit memaksa anggota keluarganya mengatur shift waktu tidur.

Ragam profesi dan kehidupan itu adalah mekanisme survival of the fittest. Istilah yang dikemukakan oleh Herbert Spencer yang diadopsi oleh Charles Darwin untuk teori evolusinya. Yang kuatlah yang akan bertahan, begitu kira-kira artinya.

Jakarta menjanjikan kehidupan bagi siapapun yang mau hidup di dalamnya. Bertemunya berbagai macam bentuk kehidupan ditambah semrawutnya kota ini memungkinkan orang-orang mengkreasi berbagai profesi. Tidak ada yang melarang anda hendak jadi apa dan tinggal dimana. Tidak ada batas disini. Anda bisa hidup asal tidak malu. Jakarta memberi kesempatan bagi siapapun untuk menerapkan teori seleksi alam itu. Jakarta memberi kesempatan untuk menguji batas anda sebagai manusia.

Jakarta betapapun tidak manusiawinya tetaplah sebuah kota yang menjanjikan. Kota yang mampu mewujudkan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Sesuatu yang tidak pernah anda pikirkan sejak pertama kali mengangkat koper dan memutuskan pergi ke kota ini.

Cobalah…

Rumahkancil, 7 januari 2009

30
Dec
08

Bus Dewi Sri : Orkestra Rakyat Jelata

Lengkingan suara gitar pada nada tinggi berakhir, seiring dengan putusnya tali senar gitar elektrik kusam itu. Tiga buah lagu selesai dimainkan oleh serombongan pengamen yang mencegat masuk ditengah kemacetan di penggal terakhir kota Cirebon sebelum masuk Indramayu. Semua lagu yang dimainkan milik bang haji, demikian sang vokalis perempuan menyebut si empunya lagu tersebut. Siapa lagi kalau bukan si raja dangdut itu. Rhoma Irama.

Para pengamen itu memainkan musik ditengah penuh sesaknya bus Dewi Sri kelas ekonomi yang aku tumpangi untuk kembali ke Depok. Terkesan sangat memaksakan diri mengamen berombongan dengan membawa peralatan yang cukup banyak. Sebuah pengeras suara, gendeng, gitar elektrik dan bas elektrik. Mereka live dalam bus. Para penumpang terlihat menikmatinya. Lembaran-lembaran seribuan pun mengalir ke dalam topi lusuh sang penabuh tamborin yang menyodorkannya kepada tiap penumpang sambil diiringi alunan musik dangdut tanpa vokal. Tentu saja tanpa suara senar nomor satu yang telah putus terlebih dulu.

Para pengamen itu hanyalah satu dari sekian orang-orang yang memanfaatkan keberadaan bus ini untuk mengais rejeki. Ada pedagang asongan, tukang pijat tunanetra, pengemis dan kadang malah preman yang menyamar jadi pengamen. Keberadaan meraka seperti sebuah simbiosis. Ada yang menguntungkan ada yang merugikan. Mereka adalah sebuah kolaborasi pergumulan hidup rakyat jelata. Sebuah pertunjukkan bagaimana sebenarnya solidaritas antar rakyat jelata.

Para sopir bus ini akan dengan sukarela menginjak rem untuk menaikkan para pedagang asongan dan pengamen untuk kemudian memberikan ruang kepada mereka mencari rejeki. Para penumpang kelas ekonomipun merasa terbantu. Mereka bisa membeli makanan yang murah yang rata-rata berharga seribu rupiah. Setelah selesai berdagang biasanya para pedagang ini akan memberikan tip kepada sopir berupa barang daganganya. Bisa sebungkus tahu, sebotol air mineral atau seplastik kecil buah. Sedangkan bagi para pengamen biasanya mereka akan memberikan tip berupa pujian akan kebaikan hati sopir dan keneknya yang telah memberikan ruang buat mereka mencari rejeki.

Bus Dewi Sri adalah alat transportasi andalan bagi warga Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Purwokerto. Pendeknya masyarakat ngapak-ngapak sangat mengandalkan bus ini untuk kepentingan mobilitas mereka berangkat ke Jakarta ataupun pulang kampung. Ini tidak lain karena kemampuan operator bus ini membangun fanatisme penumpangnya. Bisa dipastikan mereka tidak akan beralih ke operator bus lain. Rupanya mereka memanfaatkan kesamaan daerah asal operator dan penumpang untuk membangun ikatan emosional. Dalam bus kelas ekonomi ini para penumpangnya adalah mereka yang kebanyakan bekerja di sektor informal di Jakarta. Pedagang asongan, PRT, penjual nasi warteg dan mungkin saja pengamen.

Apa yang kunikmati dalam bus di siang yang mendung itu adalah sebuah orkestra rakyat jelata. Mereka memainkan partitur-partitur solidaritas. Para awak bus memberikan mereka ruang. Para penumpang memberikan selembar uang kepada pengamen tentu bukan hanya karena mereka menikmati pertunjukkan mereka. Tetapi mereka membayangkan anak istri yang menjadi tanggungan para pengamen itu. Kadang mereka merasa terganggu dengan para pedagang asongan, tetapi mereka tidak pernah protes karena selain bisa membeli makanan murah mereka juga dengan sukarela membagikan sedikit kenyamanannya buat para pedagang itu mengais rejeki. Orkestra yang sempurna.

Memasuki pertengahan kota Subang setelah bus berhenti beistirahat, seorang pengamen terakhir setelah memainkan lagu terakhirnya mengimbau para penumpang untuk membagikan sedikit rejekinya, sekedar berbagi rasa katanya. Yah… berbagi rasa adalah kata kunci dari sebuah solidaritas. Dan para penumpang bus kelas ekonomi itu telah melakukanya. Berbagi rasa sebagai sesama rakyat jelata.

Begitulah langgam hidup rakyat jelata. Memberikan yang terbatas. Saling menopang.

rumahkancil, 30 desember 2008

23
Dec
08

Komentator Sepak Bola yang Rendah Diri

Menyaksikan kompetisi piala AFF yang telah mengantarkan kekalahan timnas Indonesia untuk sekian kalinya, yang menarik disimak adalah ocehan pembawa acara dan komentator sepak bola di stasiun tv yang menayangkan kejuaraan tersebut. Sepanjang waktu siaran tersebut, saat mengomentari penampilan timnas Indonesia yang selalu muncul adalah komentar yang merepresentasikan rendah diri. Para komentator itu hanya menjadikan usia dan tinggi badan sebagai bahan analisa sepanjang pertandingan. Apalagi saat timnas Indonesia kalah.

Pada pertandingan melawan Singapura, faktor usia dan tingg badan selalu mereka persalahkan. Mereka misalnya asik mengomentari stiker timnas yang rata-rata lebih pendek dari pemain belakang Singapura. Selanjutnya kondisi ini menjadi bahan analisa kenapa umpan-umpan jauh para pemain mudah dipatahkan. Mereka sama sekali tidak mengomentari kemampuan teknik para pemain dan menganalisanya. Saat melawan Thailand mereka asik mengonmetari kemampuan fisik timnas yang kedodoran lantaran usia yang berada diatas rata-rata pemain lawan. Mereka sama sekali tidak menganalisa bagaimana sesungguhnya pola pembinaan fisik para pemaian.

Dalam sepak bola, kondisi fisik terutama tinggi badan dan usia bukan hal mutlak. Kedua hal tersebut bisa dikalahkan oleh pembinaan baik fisik maupun teknik. Maradona misalnya, pemain dengan tinggi badan pada kisaran 160-an cm itu mampu mengobrak-abrik empat pemain belakang Inggris yang jangkung untuk kemudian mencetak goal. Pemain ini kemudian menjadi legenda hidup karena kemampuan tekniknya. Tidak satupun komentator di dunia yang mempermasalahkan tinggi badan dan usianya manakala kemampuannya mulai menurun. Kecuali kalau ia sempat bermain di Liga Indonesia, ia tentu akan jadi bahan ocehan tidak bermutu komentator sepakbola di Indonesia. Soal usia, Cafu adalah salah satu contoh bagaimana usia dalam batas tertentu sesungguhnya bukan faktor penentu. Ia masih bermain untuk timnas Brazil pada usia 35 tahun. Kiper Jerman Oliver Kahn juga masih bermain dan tetap gemilang pada usia 40 tahun.

Pada pertandingan antara Vietnam melawan Singapura pada semifinal AFF kali ini juga membantah semua analisa komentator-komentator itu. Pemain Vietnam yang rata-rata sama dengan fisik pemain timnas Indonesia mampu mengalahkan pemain Singapura yang lebih tinggi. Mereka mampu menahan seri dikandang sendiri dan dengan sangat luar biasa mereka mempermalukan Singapura dihadapan tuan rumah dan membawa mereka ke final. Sekali lagi teknik dan kebugaran fisik lebih berperan. Namun para komentator itu tetap merasa rendah diri. Pujian yang sering terdengar pada pertandingan-pertandingan seperti ini adalah: “Luar biasa meskipun fisik mereka kalah tetapi mereka mampu mengobrak-abrik pertahanan lawan yang berbadan besar”. Dasar inlander! Dengarlah misalnya komentar para komentator pada pemain Persib Bandung yang cemerlang, Eka Ramdhani pada beberapa kali penampilanya. Mereka memuji seraya tidak lupa menyebut postur tubuhnya yang mungil, yang katanya tidak ideal. Seolah kecemerlangan pemain ini adalah sebuah keajaiban karena fisiknya yang tidak ideal.

Sudah semestinya para komentator ini tidak dipakai lagi, komentar-komentar mereka hanya akan menambah rasa tidak percaya diri bangsa ini dipentas global. Tinggi badan pemain kita memang sulit bersaing dengan pemain Eropa, tetapi kemampuan teknik dan pembinaan fisik yang tepat mampu mengalahkan apa yang disebut oleh para komentator itu sebagai keterbatasan. Sudah banyak yang membuktikan dan mematahkan teori-teori yang entah darimana mereka dapatkan.

Jangan-jangan mereka juga bagian dari persoalan sepak bola di Indonesia.

rumahkancil, 22 Desember 2008