Untuk urusan arus balik lebaran kali ini aku mempercayakan sepenuhnya pada kereta Cirebon Express yang sekarang sudah melayani rute ke Brebes dan Tegal. Seminggu sebelum keberangkatan tiket sudah kupesan. Sebuah tiket kelas eksekutif dengan nomor kursi 12A gerbong 2, keberangkatan dari Brebes jam 13.30.
Pada hari keberangkatan tepat dipenghujung bulan september, cerita bemula dari kereta yang terlambat selama satu jam. Sebuah cerita lama yang membuat sepotong syair lagu Iwan Fals tetap relevan. Tidak ada permintaan maaf dari sang petugas yang mengumumkan perilah keterlambatan itu. penumpangpun tampak acuh. Sebuah apatisme massal telah muncul terhadap layanan umum di indonesia. Masyarakat sudah apatis terhadap kualitas layanan umum. Apatisme massal muncul karena masyarakat sudah jenuh dan tidak tahu harus melakukan apa untuk sekedar mencari tahu apalagi untuk mencoba komplain dan menuntut kualitas layanan umum.
Sekitar jam 14.30 kereta datang. Penumpang segera menghambur menghampiri nomor gerbong yang sesuai dengan yang tertulis di karcis. Kebingungan muncul di wajah para penumpang karena nomor gerbong berbeda. Ada nomor lama dan nomor baru yang berbeda angkanya. Pada satu gerbong misalnya tertulis nomor 1 yang kelihatanya cetakan lama dan nomor 2 yang sepertinya tempelan baru. Para penumpang saling bertanya dan saling meyakinkan. Sangat menggelikan.
Memasuki gerbong aku segera mendapatkan kursi 12A yang tidak jauh dari pintu masuk. Ini dia kursi kelas eksekutif itu! sebuah kursi yang menempel jendela. Ah beruntung, duduk di kursi dekat jendela adalah kesukaanku bila pergi naik bis, kereta atau pesawat. Lebih beruntung lagi kalau siapa tahu teman seperjalananku gadis cantik. Lima menit berikutnya tiga orang masuk, seorang nenek dengan cucunya yang masih bayi dan laki-laki dan perempuan muda yang pastinya orang tua sang bayi. Mereka bertiga duduk disebelahku. Pupus sudah harapanku. Untuk urusan ini memang aku tidak pernah beruntungJ sambil menunggu keberangkatan, keluarga itu membuka bunkusan makan siang. Aromanya fuih… aku yang tidak terbiasa makan di kendaraan langsung mual. Mereka tampak lahap. Dan alamak selesai makan ayah si bayi cuci tangan di depan kursiku yang ia pakai karena masih kosong. Basahlah lantai gerbong. Wibawa kursi kelas eksekutif mulai luntur!
Kereta berjalan. Stasiun demi stasiun kecil di Brebes lewat. Aku mengamati kursi disebelahku, penumpang sebelahku tampak kesal karena stepfoot berikut tempat menaruh koran dikursinya sudah tidak ada. Koyak moyak entah kenapa. Tidak terbayang kaki ukuran sebesar apa yang sanggup mematahkan stepfoot sekuat itu. Aku mencoba menginjak keras-keras stepfoot dikursiku untuk mencoba seberapa kuat konstruksinya. Lebih aneh lagi kenapa PJKA tidak mau membetulkan hal sederhana yang berpengaruh pada mutu layanan kursi kelas eksekutif itu.
Kereta masih sepi saat memasuki cirebon. Kulihat si nenek tertidur pulas bersama bayinya. Dan alamak… ia mengangkat kakinya dan menaruhnya di sandaran tangan kursi didepannya. Sebuah pemandangan yang sangat tidak sedap. Kalau ia sedang main bola pastilah sudah kena sangsi wasit karena mengangkat kaki terlalu tinggiJ. sementara si lelaki, sang menantu terlentang tidur dikursi didepannya yang belum terisi penumpang. Sang perempuan, ibu si bayi tertidur disampingku dengan melipat kakinya keatas kursi. Seolah disampingnya adalah hanya seonggok patung lelaki yang sedang termangu. Demikianlah… ruang publik secara psikologis sanggup menelan identitas personal seseorang. Beberapa orang biasanya secara tidak sadar kehilangan identitas pribadinya. Yang muncul adalah perilaku massal. Keluarga itu kehilangan identitas personalnya ditelan gerbong kereta.
Di sebuah stasiun di wilayah Cirebon kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Serombongan orang naik tampaknya sebuah keluarga dengan dua anak kecil dan beberapa kardus serta koper yang merepotkan. Ia mondar-mandir mencari kursi bernomor 14! Padahal di gerbong itu nomor kursi hanya sampai 13! Ia bertanya kesana kemari sambil selalu memastikan tulisan yang tercetak di kacisnya. Penumpang lain ikut kebingungan. Akhirnya mereka bergerak kebelakang setelah bolak-balik tidak juga menemukan kursi yang dimaksud. Sejak itu aku tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Seorang lelaki membentak istrinya yang sedari tadi kebingungan mencari pintu toilet yang terisi air. Rupanya tidak semua toliet terisi air. Bentakan yang membangunkan penumpang lain yang sedang tidur. Hmm… kalau ditempat umum saja sang suami masih sanggup membentak istrinya bagaimana kalau ditempat tidur ya?
Toilet adalah hal paling tidak penting di negeri ini. Aku yang mengidap stres lingkungan sampai sekarang tidak pernah berani berurusan dengan toilet umum atau toilet yang belum kukenal kecuali sangat terpaksa. Panggilan alam sepanjang perjalanan itu terpaksa aku abaikanL
Memasuki stasiun besar Cirebon, penumpang bertambah ramai, kursi terisi semua. Kereta berhenti sekitar 15 menit. Lewat pengeras suara, petugas meminta maaf atas keterlambatan kereta. Sebuah layanan yang tidak standar antar stasiun. Dari balik jendela aku melihat para pengantar tampak tidak mau melepaskan pandangannya dengan orang-orang tercintanya yang sudah berada diatas kereta. Bahkan saat kereta itu mulai berjalan, para pengantar ikut berjalan seolah tidak mau melepaskan pandangannya. Cinta memang indah dan mempesona.
Selepas Cirebon kereta, melaju dengan dominasi pemandangan sawah-sawah kering kerontang terpanggang matahari kemarau. Memasuki sebuah perrkampungan sekelompok anak dengan iseng melempar kereta dengan batu. Sebuah cerita lama yang tidak pernah selesai. Seorang pramugari bolak-balik menawarkan pesanan minuman dan makanan. Sampai di kursi no. 13 tepat didepanku ia menawari dua penumpang apakah akan memesan minuman atau tidak. Seorang penumpang menjawab, “ Saya ingin memesan teh tapi mau ditaruh dimana, di kursi ini tidak ada tempat menaruh gelas”. Sesaat sang pramugari melirik ke arah jendela dan benar saja di kursi itu tidak ada tempat menaruh gelas sebagaimana kursi lainya. Sang pramugari cantik yang tampak kelelahan hanya tersenyum malu sambil memberi saran sekenanya “ Gelasnya bisa bapak pegang kok”. Penumpang menjawab sambil bercanda. “Sejauh itu saya harus memegangi gelas panas?”
Percakapan terhenti begitu saja tanpa ada pesanan minuman seperti yang diharapkan pramugari itu. Setelah itu dua penumpang di depanku kembali asik mengobrol soal politik. Ah apakah mereka tidak jemu ya dengan politik di Indonesia yang begitu membosankan dan penuh akrobat konyol.
Kereta terus melaju mengikuti lompatan waktu. Terang kemudian berangsur gelap. Lampu kabin menyala, aku mencoba menghidupkan lampu diatas tempat dudukku yang dua-duanya ternyata tidak menyala!
Ah bangsa ini baru sekadar bisa mengartikan kata kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif hanya menjadi deretan tarif yang berbeda, tapi belum bisa secara maksimal menerjemahkan ketiga kata itu dalam layanan sebagaimana mestinya. Rasanya kalau hanya mengandalkan perubahan mental secara alami perlu waktu seratus tahun kalau tanpa langkah-langkah revolusioner…
Aku secara tidak sengaja melihat Kangen Band sedang manggung disebuah stasiun tv. Kulihat mereka sedang memainkan lagu yang berjudul (mungkin) Yolanda. Band kacrut ini (menurut istilah sebuah majalah remaja) seperti membius penonton yang bisa jadi akan mereka istilahkan juga sebagai golongan kacrut. Band ini menuai banyak kontroversi. Banyak yang menghujatnya tetapi banyak juga yang memujinya. Hujatan karena menurut para penghujat band ini telah merusak dan mencemari apa yang namanya musik. Lirik-lirik lagu, aransemen, tampang, sejarah dan penampilan band ini mereka anggap sama sekali tidak mewakili arus utama musik dan dunia keartisan Indonesia. Mereka telah berbuat dosa terhadap musik. Bahkan pernah beredar fatwa mati buat anggota band ini disebuah milis. Bagi yang memuji, inilah hasil sebuah etos kerja keras. Para personel band ini datang dari lingkungan marjinal. Ada yang berayah tukang becak, ada yang berprofesi penjual sandal keliling, penjual cendol. Nasib mempertemukan mereka dengan produser dan mulailah mereka menjadi selebritis. Mereka sukses.
et kan iklan sebuah produk kopi yang diperankan oleh Luna Maya yang sedang melayani bule itu? iklan ini dugaanku (sotoyku kumat) mencoba mengusik rasa rendah diri sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat kita selalu menjadikan dunia barat sebagai tolak ukur sampai-sampai soal rasapun dalam iklan itu harus mengacu lidah si bule tadi. Menurutku menjadikan dunia barat sebagai acuan tentu sah-sah saja, apalagi dalam hal kemajuan teknologi. Hanya saja ukuran-ukuran tersebut jangan lantas menjadikan kita rendah diri: kalau bule pasti oke. Dan aku menduga kopi itu laris manis.